Sumber :
best-seller
sedunia, “
Eat, Pray, Love” (2006). Penulisnya adalah seorang novelis muda, wanita yang cerdas dan empatik, Elizabeth Gilbert (buku ini pada 2010 dinaikkan ke layar lebar dengan judul yang sama, diperankan oleh bintang Hollywood ternama, Julia Roberts).
Di dalamnya bertebaran potongan cerita dan pengalaman pribadi penulisnya yang menarik, sedih, empatik, dan terkadang lucu sekaligus. Intinya, pada usia 31 tahun, Elizabeth Gilbert mengakhiri perkawinan yang hanya berisi kepedihan. Kemudian ia memutuskan untuk mencari dan menemukan dirinya, dengan melakukan perjalanan serta tinggal beberapa lama di Italia, India, dan Indonesia (Bali). Setelah melewati proses aktualisasi diri hampir setahun, ia berhasil berdamai dengan dirinya, dan di Pulau Dewata, menemukan cintanya yang abadi. A story with a happy ending, sebuah buku yang sangat layak dibaca oleh kaum muda dan pasangan muda di mana pun.
Singkatnya, buku Elizabeth Gilbert menunjukkan, tanpa sepenuhnya disadari oleh penulisnya, bahwa fondasi kebahagiaan hidup, termasuk dalam menemukan cinta sejati, adalah jika kita telah terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri. Dengan itulah kita kemudian bisa lebih leluasa untuk berkembang, baik sebagai pribadi, maupun sebagai pasangan hidup dari individu lainnya.
Kembali ke Prof. Finkel, dapat dikatakan bahwa baginya, motif dan tujuan perkawinan model terbaru sangat berkaitan dengan teori Abraham Maslow, khususnya pada hirarkhi yang tertinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri. Berbeda dengan jenis kebutuhan yang lainnya, aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia yang lebih subtil, berada di wilayah kedalaman batin yang sangat bersifat subyektif.
Bagi Prof. Finkel, di situlah terletak rahasia jatuh bangunnya perkawinan di zaman ini. Mencapai pemenuhan kebutuhan material, mengejar kepuasan seksual, atau mengikuti tuntutan sosial: semua ini tentu bukan hal yang mudah, namun, seperti yang implisit terkandung dalam teori Maslow, pasti tidak serumit pencarian kepuasan aktualisasi diri (itu sebabnya angka perceraian cenderung meninggi). We are our worst enemy: ungkapan ini mungkin bisa menggambarkan problematika yang ada dalam model perkawinan terbaru ini.
Namun di situ pula terletak potensi terbesarnya. Kalau puncak gunung berhasil dicapai, maka panorama yang terbentang tak terperi indahnya: kalau problematika tersebut dapat diatasi, seperti yang telah dikatakan Prof. Finkel di atas, maka lebih dari masa-masa sebelumnya, perkawinan yang terjadi betul-betul membahagiakan dan produktif.
Di dalamnya bertebaran potongan cerita dan pengalaman pribadi penulisnya yang menarik, sedih, empatik, dan terkadang lucu sekaligus. Intinya, pada usia 31 tahun, Elizabeth Gilbert mengakhiri perkawinan yang hanya berisi kepedihan. Kemudian ia memutuskan untuk mencari dan menemukan dirinya, dengan melakukan perjalanan serta tinggal beberapa lama di Italia, India, dan Indonesia (Bali). Setelah melewati proses aktualisasi diri hampir setahun, ia berhasil berdamai dengan dirinya, dan di Pulau Dewata, menemukan cintanya yang abadi. A story with a happy ending, sebuah buku yang sangat layak dibaca oleh kaum muda dan pasangan muda di mana pun.
Singkatnya, buku Elizabeth Gilbert menunjukkan, tanpa sepenuhnya disadari oleh penulisnya, bahwa fondasi kebahagiaan hidup, termasuk dalam menemukan cinta sejati, adalah jika kita telah terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri. Dengan itulah kita kemudian bisa lebih leluasa untuk berkembang, baik sebagai pribadi, maupun sebagai pasangan hidup dari individu lainnya.
Kembali ke Prof. Finkel, dapat dikatakan bahwa baginya, motif dan tujuan perkawinan model terbaru sangat berkaitan dengan teori Abraham Maslow, khususnya pada hirarkhi yang tertinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri. Berbeda dengan jenis kebutuhan yang lainnya, aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia yang lebih subtil, berada di wilayah kedalaman batin yang sangat bersifat subyektif.
Bagi Prof. Finkel, di situlah terletak rahasia jatuh bangunnya perkawinan di zaman ini. Mencapai pemenuhan kebutuhan material, mengejar kepuasan seksual, atau mengikuti tuntutan sosial: semua ini tentu bukan hal yang mudah, namun, seperti yang implisit terkandung dalam teori Maslow, pasti tidak serumit pencarian kepuasan aktualisasi diri (itu sebabnya angka perceraian cenderung meninggi). We are our worst enemy: ungkapan ini mungkin bisa menggambarkan problematika yang ada dalam model perkawinan terbaru ini.
Namun di situ pula terletak potensi terbesarnya. Kalau puncak gunung berhasil dicapai, maka panorama yang terbentang tak terperi indahnya: kalau problematika tersebut dapat diatasi, seperti yang telah dikatakan Prof. Finkel di atas, maka lebih dari masa-masa sebelumnya, perkawinan yang terjadi betul-betul membahagiakan dan produktif.
Halaman Selanjutnya