Gerhana Bulan Langka, Ini Dampaknya bagi Indonesia
- Pixabay
Senada, Stasiun Klimatologi Klas I BMKG Kota Semarang mengingatkan masyarakat sekitar pesisir di Semarang mewaspadai potensi banjir rob yang mencapai 110 cm atau naik 10 cm dari normal.
Berdampak di Antariksa
Fenomena totalitas tersebut akan berdampak pula di antariksa. Saat gerhana bulan tersebut, dikutip dari laman Space, insinyur NASA akan mematikan instrumen yang ada pada wahana ‘pengintip’ bulan, Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO).Â
Peneliti utama LRO, Noah Petro menjelaskan, langkah itu dilakukan sebab wahana tidak akan mendapatkan sinar matahari yang terhalang oleh bumi. Padahal wahana LRO bekerja dengan daya sinar surya. Untuk itu, saat gerhana bulan nanti, peneliti akan mematikan instrumen pengamatan, dan akan mengalihkan LRO ke daya baterai.Â
Namun, peneliti memastikan, LRO mengatakan wahana tetap akan aman. Sebab wahana tersebut sudah beberapa kali mengalami gerhana bulan tujuh kali sejak diluncurkan pada 2009.Â
"Kami pembakaran kecil (mesin) untuk membuat kami dalam posisi seoptimal mungkin. Ini juga dilakukan untuk menjaga agar pesawat antariksa bisa 'hidup' selama mungkin," jelas Petro.Â
Peneliti mengakui, fenomena gerhana akhir bulan ini memang langka dan belum pernah sekalipun wahana LRO melewatinya. Untuk itu, tim peneliti sengaja mematikan instrumen wahana tersebut.Â
Langkah mematikan instrumen ini, jelas Petro, merupakan langkah antisipasi untuk memastikan wahana aman melewati gerhana bulan langka tersebut. Dalam gerhana-gerhana sebelumnya, LRO tetap beroperasi mengumpulkan data.Â
![]()
Mengikis Mitos
Gerhana yang langka ini diharapkan menjadi media edukasi dan belajar sains. Hal ini penting sebab, masih saja ada hoax bermunculan mengiringi fenomena gerhana tersebut.Â
Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang, Rahmat Triyono menginginkan masyarakat tidak hanya melihat gerhana dengan mata saja, namun juga mampu memahami tentang ilmu pengetahuan, khususnya tentang gerhana bulan ini.
"Jika masyarakat terutama para orang tua memahami, maka secara otomatis juga di rumah dapat memberikan pengetahuan kepada anak-anaknya. Ini kesempatan kita saling berbagi ilmu," ujar Rahmat.
Pemahaman berbasis sains itu setidaknya bisa menggerus dan mengurangi pola pikir yang tidak ilmiah. Misalnya munculnya gerhana langka ini beriringan dengan kejadian gempa berturut-turut pekan lalu.