Teror Air Mineral Mikroplastik, Perlukah Khawatir
- Pixabay/ Hans
Mencemari sejak revolusi industri
Pada akhir 2016, WHO pernah membuat penelitian yang menyebutkan mikroplastik sudah mencemari bumi sejak revolusi industri, terutama pada biota laut.
Disebutkan bahwa mikroplastik mencemari plankton dan zooplankton, yang dikonsumsi biota laut sehingga merusak rantai makanan.
Pada 2017, Orb Media pun pernah melakukan penelitian terhadap kualitas air keran di dunia. Ditemukan bahwa hampir semua air keran dunia terkontaminasi serat mikroplastik.Â
![]()
Dari studi tersebut 83 persen sampel air keran yang dikumpulkan dari lebih belasan negara di lima benua, positif mengandung mikroplastik. Lokasi yang diuji mulai dari Eropa, Beirut sampai Jakarta, menunjukkan plastik ditemukan di lebih dari 70 persen sampel air keran.
Dikutip dari Time, untuk sampel di Amerika Serikat, periset menemukan 94 persen dari semua sampel air, termasuk air keran dari tempat-tempat seperti Menara Trump dan kantor pusat Environmental Protection Agency, terkontaminasi oleh plastik.Â
Fragmen mikroskopik ini memasuki sistem air dengan berbagai cara, seperti misal dari pakaian serat sintetis, sampah ban, serta potongan plastik berukuran lebih besar yang tidak dapat terurai secara hayati.
Tercatat setiap tahunnya sekitar 300 juta ton plastik diproduksi. Memburuknya masalah kontaminasi ini terlihat dengan semakin banyaknya sampah-sampah plastik mengapung di tengah lautan dan sungai yang bahkan memiliki aliran deras.Â
Belum ada penelitian dampak pada manusia
Pencemaran mikroplastik sudah mencapai taraf mengkhawatirkan, namun berdasarkan data belum ada yang menyebutkan dampak membahayakan mikroplastik pada manusia.
Profesor Mason menyebut bahwa tidak ada bukti mencerna plastik dalam wujud sangat kecil (mikroplastik) dapat menimbulkan penyakit pada tubuh. Namun, memahami potensi dampaknya adalah bidang yang dikaji dalam sains.
"Yang kita tahu adalah beberapa dari partikel ini cukup besar sehingga, ketika dicerna, partikel itu mungkin dikeluarkan dari dalam tubuh. Tapi sepanjang perjalanan di dalam tubuh mereka bisa melepaskan zat kimia yang menyebabkan dampak bagi kesehatan manusia," papar Prof Mason.
"Sebagian partikel ini luar biasa kecil sehingga mereka bisa masuk usus di perut, menyusurinya, dan dibawa ke seluruh tubuh. Kami tidak tahu implikasinya atau apa artinya bagi berbagai organ tubuh kita," lanjutnya.