Susah Putus dari Facebook
- Reuters//Dado Ruvic/Illustration
![]()
Tingkat kepercayaan terhadap Facebook ternyata tak begitu linier dengan kampanye #DeleteFacebook. Ajakan hapus Facebook memang mudah diucapkan tapi susah untuk dilaksanakan. Menggema di mana-mana tapi hasil aksinya. Facebook sudah mengikat hati penggunanya. Tanpa Facebook rasanya media sosial hilang dari muka Bumi. Sulit untuk memutuskan kontak dari Facebook.
Data Reuters dari firma pengukur khalayak daring global, SimiliarWeb menunjukkan, penggunaan Facebook di pasar-pasar utama dan seluruh dunia tetap stabil, setelah ajakan #DeleteFacebook menggema sepanjang pekan lalu.Â
"Penggunaan (Facebook) dari aplikasi, mobile dan desktop masih stabil dan bagus dengan kisaran yang diperkirakan. Ini penting untuk memisahkan frustasi dampak nyata terhadap penggunaan Facebook," jelas Direktur Pemasaran SimiliarWeb, Gitit Greenberg. Â Â
Nyatanya meski tahu borok Facebook, namun tidak mudah untuk mengambil keputusan menghapus akun Facebook. Ada beberapa hal yang menyandera pengguna.
Tak berhenti hapus Facebook
Pengalaman eksekutif teknologi dari San Francisco, Arvind Rajan bisa menjadi gambaran. Dikutip dari CBSnews, Rajan menonaktifkan akun Facebooknya Senin pekan lalu. Tiba-tiba rasanya susah untuk meloloskan diri dari Facebook.
Sebab, saban dia ingin masuk ke website, berbagai aplikasi, dia harus memasukkan ID Facebook. Maka dia memang repot, harus membuat username dan password baru untuk bisa masuk ke situs yang ingin diaksesnya. Sebelumnya Rajan, selalu masuk ke situs atau aplikasi menggunakan identitas Facebooknya.Â
"Ini menyakitkan, membuat tak nyaman. Tapi bukan akhir dari segalanya," kata dia.
![]()
Praktik masuk ke situs atau aplikasi dengan menggunakan login Facebook untuk mengautentifikasi pengguna, sudah begitu jamak. Misalnya Spotify sampai Tinder menggunakan skema tersebut untuk menerima pengguna. Jadi menghapus Facebook memang keputusan yang penting, pengguna siap untuk merasakan ketidaknyamanan begitu mereka menghapus akun mereka, seperti yang terjadi pada Rajan.
Facebook memang begitu digdaya menggurita kehidupan di internet. Asisten profesor Studi Informasi Universitas Southern California Amerika Serikat, Safiya Noble menjelaskan dalam bukunya Algorithms of Oppressions, bagi banyak orang Facebook merupakan pintu gerbang penting untuk masuk ke internet.Â
"Nyatanya, orang tahunya internet adalah hanya Facebook dan Facebook memainkan peran sentral dalam berkomunikasi, melahirkan komunitas dan partisipasi dalam masyarakat daring," tulisnya dikutip dari Engadget.Â