Susah Putus dari Facebook

Ilustrasi tombol dislike Facebook.
Sumber :
  • Reuters//Dado Ruvic/Illustration

Efek dopanime inilah, kata Goodin, yang membuat pengguna makin lengket dengan terus menerus memakai media sosial mereka. 

img_title Penipuan Jual Mobil Bekas Lewat Facebook Masih Mengintai

Facebook.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Goodin, sama halnya dengan berjudi, bermain Facebook bakal mengubah pengguna punya kepribadian adiktif terhadap media sosial. 

img_title Meta Indonesia Ungkap AI bikin Iklan Makin Nempel, Pengguna Facebook dan Instagram Naik Tajam

Namun tak semua pengguna Facebook merasa tergantung dengan platform ini. Beberapa pengguna hanya senang mendapatkan feedback di media sosialnya. 

Karena hal itu, Goodin mengatakan seharusnya pengguna Facebook juga tidak perlu memaksakan untuk langsung memutuskan hubungan dengan media sosial itu.

img_title Viral! Helm Dicuri Muncul di Marketplace, Korban Kaget Pelaku Pakai Seragam Dishub saat COD

"Software itu didesain secara spesifik untuk membuat kita selalu kembali, kita tidak harus mengalahkan diri kita sendiri tentang fakta terlalu sulit untuk tidak menggunakannya," tuturnya.

Hampir mirip, penulis buku The Happy Brain, Dean Burnett menunjukkan makna penting interaksi sosial pada otak manusia. 

Interaksi sosial berperan dalam evolusi otak. Dalam berbagai studi, menurutnya, buktinya bisa dilacak pada jaringan saraf yang mengatur interaksi sosial. Jadi saat pengguna berinteraksi sosial di Facebook maka akan mengarah pada jalur penghargaan mesolimbik. Ini merupakan bagian otak yang menyebabkan manusia mengalami kesenangan. Makanya tak heran, manusia pada umumnya menyukai interaksi sosial.

Indonesia Harus Apa?

Keriuhan Skandal Facebook soal bocornya data pengguna tidak akan begitu berdampak di Indonesia. Kampanye #DeleteFacebook tidak akan banyak didengar maupun dijalankan oleh pengguna tanah air. 

Pegiat internet Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFENet), Damar Juniarto meyakini karakter masyarakat Indonesia yang cenderung permisif dan menyukai buka-bukaan, membuat isu perlindungan data belum begitu dianggap penting. Bahkan Damar menduga, pengguna Facebook di Indonesia enggak memahami konsekuensi dari terbongkarnya skandal Facebook tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mungkin enggak tahu sekian banyak yang diambil (datanya). Tapi setelah tahu pun saya rasa, masyarakat Indonesia enggak terlalu peduli. Karena enggak pernah dianggap penting data-data pribadi itu," jelas Damar kepada VIVA. 

Facebook.Sikap acuh pengguna Facebook terhadap data pribadi itu, menurut Damar, terkait dengan perilaku dan penghargaan pengguna atas privasi. Tantangan besar di Indonesia dalam hal data pribadi saat ini menurutnya adalah menyadarkan ke publik tentang pentingnya privasi. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut