Susah Putus dari Facebook
- Reuters//Dado Ruvic/Illustration
Sedangkan aktivitas dan penulis di Berlin, Jillian C. York menuliskan, menghapus Facebook mudah digaungkan tapi tak mudah dilaksanakan. Menghapus Facebook adalah sebuah hak khusus bagi masing-masing.Â
York menggarisbawahi, bagi mereka yang penyandang disabilitas atau sakit tertentu, warga di perbatasan, anak muda, akan sangat kehilangan koneksi atau keterhubungan saat Facebook tidak ada lagi.Â
Dari titik ini, memang Facebook menyandang raja media sosial. Begitu digdaya. Platform ini memang sedang dicaci tapi punya kuasa terhadap pengguna.Â
Asisten profesor dan Direktur Pascasarjana Departemen Komunikasi Universitas Buffalo Amerika Serikat, Melanie C. Green mengakui, Facebook telah meningkatkan kesejahteraan pengguna, setidaknya bisa terhubung dengan teman dan orang terdekatnya. Menurutnya, orang menggunakan media sosial untuk secara aktif mengelola hubungan dan menciptakan keterhubungan.Â
"Tantangan dalam meninggalkan Facebook adalah masalah aksi kolektif. Banyak orang mungkin ingin meninggalkan Facebook tapi karena tidak jelas platform alternatifnya, akan sudah bagi mereka untuk menjalin koneksi," jelasnya kepada Engadget.
Senada, analis eMarketer, Debra Williamson menjelaskan, terlalu dini turunnya kepercayaan pada Facebook akan membuat pengguna ramai-rama meninggalkan Facebook. Menurut Williamson, secara psikologi lebih susah untuk melepaskan platform seperti Facebook, sebab platform semacam in telah mewujud dan berurat akar dalam kehidupan manusia saat ini.Â
Menghapus akun Facebook bukan lantas menyelesaikan masalah. Pengguna tetap tak akan  lepas dari mata-mata pengambilan data, meski memutus akses media sosial. Pakar data pribadi dari Privacy International, Frederike Kaltheuner mengatakan, pengguna bisa saja lepas dan menghapus akun Facebook tapi pengguna masih bisa dilacak secara daring maupun kehidupan offline.Â
"Ponsel secara definisi adalah perangkat pelacakan," tuturnya.Â
Susah Putus
Soal susahnya putus hubungan dengan Facebook diamini oleh Digital Detoxer, Tanya Goodin. Dia mengatakan, Facebook dirancang menjadi begitu melekat bagi penggunanya.Â
Goodin menjelaskan, saat mendapatkan like atau komentar di Facebook, pengguna akan mendapatkan semacam dopamine, bahan kimia yang membuat manusia senang. Efek dopamine yang ditimbulkan di Facebook sama seperti kesenangan saat berhubungan seks, judi, atau usai mengonsumsi ganja.Â