Ironi Dokter Terawan
- VIVA/Anhar Rizki Affandi
"Iya sejak pagi dokter Terawan praktik di RSPAD," terangnya.
Masih berpraktiknya dr Terawan tentunya menimbulkan banyak pertanyaan, apakah ia tidak mengindahkan surat pemecatan tersebut? Sayangnya yang berkaitan belum bisa dihubungi hingga artikel ini ditulis.
![]()
Jika dr Terawan tidak mengindahkan teguran tersebut, itu artinya sudah hampir 2 bulan beliau tidak menjalankan praktik padahal izinnya dicabut. Menanggapi hal itu dr Pukovisa mengatakan bahwa tugas MKEK sebtulnya sudah selesai, tindak lanjutnya seharusnya dilakukan oleh lembaga lain dalam IDI.
"Sebetulnya dengan keluarnya surat ini, MKEK sudah paripurna dalam kerjanya. Sudah selesai tugas dan tanggungjawabnya. Selanjutnya ia mengungkapkan bahwa tindak lanjut dan eksekusi ada pada kewenangan pihak legislatif dalam hal ini IDI Kepengurusan Pusat (Pengurus Besar), Wilayah, dan Cabang, serta Perhimpunan Dokter Spesialis terkait yaitu dalam hal ini Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia (PDSRI)."
Diakui Internasional
Kehebohan pemberitaan tentang turunnya surat pemecatan dr Terawan ternyata berlanjut dengan kekecewaan masyarakat terhadap keputusan MKEK PB IDI. Dokter dengan segudang prestasi ini justru telah menuai banyak pujian.
Sejak diperkenalkan pada 2005, metode terapi cuci otak ini telah menyembuhkan atau meringankan 40 ribu penderita stroke. Metode pengobatan lulusan doktor Universitas Hasanuddin ini bahkan telah diterapkan di Jerman dengan nama paten ‘Terawan Theory’.Â
![]()
Atas penemuannya ini Terawan telah mendapatkan berbagai penghargaan. Di antaranya penghargaan Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan dua rekor MURI sekaligus sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program Digital Substraction Angiogram (DSA) terbanyak, serta Penghargaan Achmad Bakrie XV.
Terawan merupakan seorang dokter militer kelahiran Yogyakarta yang menemukan terapi cuci otak untuk mengobati pasien stroke. Penemuan ini sempat dipaparkan oleh dokter Terawan pada sidang terbuka disertasi miliknya di Gedung Auditorium Profesor Dr. Achmad Amiruddin di Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Metode cuci otak atau yang biasa disebut  brain flushing pertama kali diperkenalkan Terawan  dalam disertasinya bertajuk “Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis."Â