Melawan Teror di Kota Pahlawan

Lokasi ledakan bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya
Sumber :
  • ANTARA FOTO/HO/HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria

Baca juga: 4 Terduga Teroris Ditembak di Cianjur, Mau Serang Polisi

img_title Geger, Ada Tas Mencurigakan Dekat Gereja di Depok

ISIS penggal agen Hamas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Satu keluarga

img_title Dubes Inggris Puji Surabaya Cepat Atasi Dampak Teror

Beberapa jam setelah peristiwa, atau Minggu sore, Kapolri Jenderal Tito Karnavian meluncur ke Surabaya. Dia mendampingi Presiden Joko Widodo melihat korban bom di Rumah Sakit Bhayangkara Markas Kepolisian Daerah Jatim.

Dalam kesempatan itu, Tito menyampaikan bahwa Presiden Jokowi sudah memerintahkan padanya untuk melakukan investigasi secepat mungkin dan menuntaskan kasus tersebut. Oleh karena itu, institusinya langsung bergerak dari pagi begitu peristiwa terjadi.

img_title Solidaritas Korban Bom Surabaya dari Warga RI di New York

Hasilnya cukup signifikan. Mereka langsung bisa mengetahui identitas atau siapa pelaku-pelaku dari aksi bom di tiga gereja tersebut.

Tito mengatakan para pelaku diduga satu keluarga. Pelaku yang melakukan serangan di Gereja Pantekosta, menggunakan Avanza, diduga keras adalah orang tua atau ayahnya bernama Dita Uprianto.

Sebelumnya dia men-drop istri dan dua anak perempuannya. Istrinya yang meninggal diduga bernama Puji Kuswati. Kemudian yang perempuan bernama Fadilah Sari, umur 12 tahun, dan Pamela Riskita, umur 9 tahun.

"Kelahiran Surabaya semua, kecuali Puji Kuswati yang kelahiran Banyuwangi," kata Tito.

Suasana saat teroris meledakan bom di Gereja Santa Maria, Surabaya.

Kemudian, lanjut mantan Kepala BNPT tersebut, pelaku ketiga yang di Gereja Santa Maria, dua orang laki-laki, yang diduga juga putra dari Dita. Satu bernama Yusuf Fadil, usia 18 tahun, dan Firman Halim yang usianya 16 tahun.

Tito memastikan bahwa semua adalah serangan bom bunuh diri. Cuma jenis bomnya saja yang berbeda.

"Yang pelaku dengan Avanza di Jalan Arjuna, itu menggunakan bom yang diletakkan di dalam kendaraan setelah itu ditabrakkan. Ini ledakan yang terbesar, saya kira, dari yang dua ledakan itu," kata dia.

Kemudian untuk yang di GKI di Jalan Diponegoro, tiga-tiganya menggunakan bom yang diletakkan pada pinggang. Alasannya menurut Tito, ciri-cirinya sangat khas karena yang rusak di bagian perutnya saja.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Itu yang perempuan. Ibunya maupun anaknya, (yang rusak) hanya bagian perutnya, sementara bagian atas dan bagian bawahnya masih utuh. Tapi di tempat ini tidak ada korban dari masyarakat," ujar Tito.

Lalu bom yang di Jalan Ngagel, Gereja Katolik Santa Maria di Ngagel, Tito mengatakan pelaku menggunakan bom yang dipangku. Namun di sini, polisi belum tahu jenis bomnya. Tapi mantan Kapolda Metro Jaya itu mengakui efek ledakannya cukup besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut