Melawan Teror di Kota Pahlawan
- ANTARA FOTO/HO/HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria
Sementara itu, kepolisian menyebut bahwa setidaknya sampai pukul 20.30 WIB, 13 orang kehilangan nyawa dalam peristiwa bom Surabaya pada Minggu pagi itu, termasuk di antaranya adalah bocah berusia 11 tahun bernama Vincensius Evan. Kemudian, 41 orang lainnya luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit baik di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur, atau juga Rumah Sakit Dr. Soetomo.
Baca juga: Buya Syafii: Tuhan Tak Ajarkan Bom Bunuh Diri
Jaringan ISIS
Tidak butuh waktu lama untuk menganalisa, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Ansyaad Mbai, langsung menyimpulkan bahwa pelaku bom bunuh diri di tiga gereja itu tidak jauh-jauh dari jaringan gerakan teroris Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS. Dia menegaskan bahwa kelompok tersebut memang sudah merencanakan aksi-aksinya.
"Ya lihat saja (sama dengan ISIS). Apa pernyataan-pernyataan mereka? Persis sama," kata Ansyaad dalam perbincangan dengan tvOne, Minggu, 13 Mei 2018.
Ansyaad mengatakan mereka bisa memakai nama apapun dalam aksinya di Indonesia. Namun, secara ideologi dan tujuan tetap sama. Misalnya saja Jemaah Ansharut Daulah yang disingkat JAD.
"Itu sama barangnya. Cuma targetnya lain," kata dia.
Ansyaad menuturkan bagi mereka nama tidak terlalu penting. Semua kelompok yang berbeda itu serentak sama dan menyatakan diri bagian dari ISIS.
Aksi-aksi teror di Surabaya itu menurut pria kelahiran 2 Juni 1948 itu juga merupakan rangkaian serangan dari ISIS di Tanah Air yang simultan dan terencana. Dia menyampaikan kelompok itu sengaja melakukan teror untuk menakut-nakuti masyarakat.
"Ini bukan balasan (atas kejadian di Mako Brimob). Tanpa kejadian di Mako Brimob, aksi teror tetap akan terjadi. Kalau Mako Brimob tidak terjadi, pasti meledak di tempat lain," ujarnya.
Namun, Ansyaad meminta masyarakat jangan takut, tidak panik. Selain itu, dia mengimbau mereka untuk membantu kepolisian, tidak sebaliknya justru membully Korps Bhayangkara. Dia tetap yakin polisi mampu menangani aksi-aksi teror di Indonesia.
"Sama-sama tegar, berani. Bangkit melawan bersama-sama," tutur dia.
Tidak lupa, Ansyaad juga mengingatkan para elite negeri ini untuk tidak mengkapitalisasi kejadian di Surabaya demi kepentingan politik. Misalnya menyalahkan polisi dan pemerintah hanya demi meningkatkan elektoral saja karena situasi dalam negeri yang sudah masuk tahun politik.