Membaca Potensi Amien Rais Nyapres Lagi
- Repro Instagram
Amien Rais memang pernah tersisih dari kompetisi capres-cawapres pada 2004. Amien Rais yang kala itu berpasangan dengan Juwono Sudarsono, gagal melenggang menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Menurut Hendri, daripada Amien Rais repot mencalonkan diri, lebih baik ia menabung elektabilitasnya, serta mengarahkan dukungannya untuk memenangkan kandidat mereka. "Kalau mau maju coba ya boleh, namanya negara demokrasi. Tetapi, menurut saya lebih baik menabung elektabilitas ke calon lain untuk menghadapi Jokowi daripada Amien sendiri maju," ujar Hendri.
Ia menambahkan, secara elektabilitas, kader PAN belum punya indikator kuat untuk bersaing di Pilpres 2019. Hal ini, termasuk Amien Rais dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Menurut dia, PAN lebih baik menjadi parpol pendukung. "Enggak usah ngajuin calon PAN itu. Lebih baik usung calon lain," sebutnya.
Bantahan halus atas pencalonan Amien Rais, justru datang dari Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Drajad Wibowo. Drajad menekankan, PAN punya kader potensial yang layak diusung ke Pemilu 2019. "Ada empat ketum dan mantan ketum. Jadi, nama keempatnya dimunculkan menjelang Rakernas, karena kurang cantik kalau nama Pak Amien tidak masuk," ujar Drajat.
Proses pendaftaran Capres-Cawapres RI sudah semakin mendekati masa mendebarkan. Agustus mendatang, mereka yang siap menjadi capres-cawapres harus segera mendaftarkan diri. Hanya tersisa waktu sekitar satu bulan untuk mengejar, mendekat, melobi, dan saling tawar menawar untuk menjadi capres-cawapres.
Tapi hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari PAN yang menyatakan mendukung Amien Rais. PAN masih menimbang siapa yang akan mereka jagokan. Begitu juga PKS.
Jokowi yang sudah dicalonkan resmi oleh beberapa partai malah terlihat cuek. Sampai saat ini Jokowi seperti tak peduli dengan hiruk pikuk politik. Ia juga tak terlibat mencari siapa yang layak menjadi capresnya.
Sementara itu, oposisi sudah kelimpungan mencari capres dan cawapres. Tagar #2019GantiPresiden juga sudah meluas ke mana-mana.
Namun, melihat kocar kacirnya koalisi oposisi ini dan melihat hasil quick count Pilkada Serentak, harusnya lawan politik Jokowi berdebar. Sebab, Presiden Jokowi sudah berhasil menguasai tiga wilayah Jawa.