Kontroversi Si Kental Manis

Susu kental manis (SKM).
Sumber :
  • Pinterest/Kelli Foster

VIVA – Sejak dahulu, susu diyakini menjadi salah satu sumber kebutuhan gizi bagi siapa saja, terutama bayi dan balita. Berbagai jenis produk susu sangat mudah ditemui di pasaran, dari mulai susu formula, pasteurisasi, kental manis, hingga susu kemasan yang berbentuk minuman ringan untuk anak-anak.

img_title Faktor Ekonomi Sebabkan Keterbatasan Akses Masyarakat pada Makanan Bergizi

Selain mudah didapat, beberapa produk berlabel susu juga murah, apalagi rata-rata memiliki rasa yang enak (berbagai rasa) sehingga masyarakat menjadikannya alternatif asupan gizi untuk anak-anak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apapun bentuknya, susu selalu diyakini memiliki kandungan nutrisi untuk asupan sehari-hari. Namun belakangan ini keyakinan masyarakat akan manfaat baik susu terusik. Beberapa waktu lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan edaran yang menyebut bahwa Susu Kental Manis (SKM) bukanlah susu dan berbahaya dikonsumsi oleh bayi dan balita.

img_title Miris, Ternyata Masih Ada Posyandu yang Berikan Kental Manis

Saus karamel dari susu kental manis (SKM).

Kontroversi soal SKM ini sebetulnya sudah muncul sejak satu tahun lalu. Pada November 2017 sejumlah lembaga nonprovit beberapa di antaranya KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), dan YLKI (Yayasan Layanan Konsumen Indonesia) menandatangai komitmen bersama untuk melindungi anak dari pangan yang tidak sehat dalam rangka mewujudkan target pemerintah untuk menciptakan Generasi Emas Indonesia di tahun 2045.

img_title Bukan Susu! 1 dari 4 Balita di Jakarta dan Jawa Barat Konsumsi Kental Manis Setiap Hari, Ini Bahayanya

Kesepakatan tersebut mengungkit banyaknya perusahaan yang memanfaatkan anak-anak dalam iklan produk mereka. Padahal produk tersebut bukan diperuntukkan untuk anak-anak, misalnya iklan dan label SKM. 

"Label dan iklan ini sudah tentu menyesatkan para orang tua, SKM diperuntukkan sebagai topping makanan dan minuman sekarang beralih menjadi minuman menyehatkan, padahal kandungan gulanya melebihi 50 persen," kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat, dalam rilis yang diterima VIVA, 20 November 2017 lalu.

Ternyata Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mengendus bahaya yang sama. Beberapa bulan setelah kesepakatan tersebut (awal 2018) IDAI menulis lewat laman resminya soal bahaya SKM bagi anak-anak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Singkatnya pada laman tersebut dinyatakan bahwa susu kental manis tak boleh diberikan pada bayi dan anak, karena mengandung kadar gula sangat tinggi dan rendah protein. 

"Dampak kelebihan konsumsi gula pada anak berakibat penumpukkan gula pada tubuh. Apalagi susu kental manis biasanya ditambahkan gula ketika diseduh," tulis laman tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut