Setop Pakai Sedotan Plastik!

Sedotan plastik.
Sedotan plastik.
Sumber :
  • Pixabay/rkit

"Sampai di lapangan pun kami tidak menggunakan plastik yang disposable. Memang karyawan juga diwajibkan untuk tidak menggunakan yang seperti itu. Setidaknya kami mengurangi lah, tidak menambah plastik yang sekali (pakai) buang seperti itu," katanya saat ditemui di pabrik Technoplast di Cikupa, Tangerang, Banten beberapa waktu lalu.

Ia juga menambahkan, produk-produk plasticware mereka bisa di-reuse atau digunakan kembali. "Jadi biasanya di pabrik plastik kecil ambil waste dari pabrik plastik seperti ini (Technoplast). Mereka grinding, mereka pakai untuk mereka. Biasanya seperti itu secara naturalnya," dia menjelaskan.

Hartadi melanjutkan, umumnya, waste atau limbah plastik dari pabrik-pabrik besar tadi dimanfaatkan oleh pabrik kecil untuk membuat produk lain, biasanya produk-produk yang tidak untuk food contact atau kontak dengan makanan.

Lingkungan Jadi Korban

Tentu saja yang paling terkena imbas masalah sampah plastik ini adalah lingkungan, di mana ekosistem laut rusak, termasuk terumbu karang. Padahal Indonesia adalah penyumbang terumbu karang terbesar, yakni mencapai 76 persen di Coral Triangle dunia. Sayangnya, menurut United Nations Development Programme (2016), dari jumlah keseluruhan luas terumbu karang di Indonesia yang mencapai 2,5 juta hektare, 68 persennya memiliki kualitas yang buruk.

Belum lagi jika bicara mengenai partikel mikroplastik yang saat ini sudah diungkapkan oleh berbagai studi, telah terkandung di dalam hidangan berbahan dasar seafood atau boga bahari yang dimakan sehari-hari.

"Kalau sampah pengaruhnya banyak banget, dia enggak bisa cepat terurai. Kalau terurai, dia jadi partikel kecil. Serpihan itu ketika masuk bisa dimakan ikan, sementara bentuk plastiknya mengapung. Jadi semakin banyak, semakin dimakan sama ikan. Dan ini nanti juga akan berbahaya ketika ikan itu dimakan oleh manusia," ucap Swietenia.