Kebakaran Hutan dan Gagalnya Pemerintah

Ilustrasi Kebakaran hutan di Kalimantan
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Untung Setiawan

Jokowi mengklaim, kebakaran hutan di tahun ini sudah menurun dratis dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah juga telah berusaha melakukan penegakan hukum, pengawasan di lapangan, mengeluarkan peraturan presiden mengenai kebakaran hutan dan lahan, termasuk membentuk Badan Restorasi Gambut. 

img_title Menteri LHK: Pembangunan Tak Boleh Terhenti Atas Nama Deforestasi

"Tidak hanya di Kalimantan di seluruh Tanah Air saya rasa, dalam empat tahun ini, kita sangat serius habis-habisan. Hasilnya, bisa kita lihat kebakaran hutan di seluruh Tanah Air menurun 85 persen kurang lebih," ujar Jokowi di Jakarta, Jumat 24 Agustus 2018. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selanjutnya, pemerintah telah gagal...

img_title Menko Luhut Ingatkan Visi Poros Maritim Dunia Harus Terealisasi

Pemerintah telah gagal 

Parahnya Kebakaran Lahan di Kalimantan Barat

img_title Bonus Setara, Ketua NPC Indonesia Apresiasi Presiden dan Menpora

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyatakan, kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi tahun ini menunjukan salah urus tata kelola hutan dan ekosistem rawa gambut. Meski angkanya sempat menurun di tahun 2016 dan 2017, kebakaran di tahun ini dikhawatirkan akan meluas.  

Direktur Walhi Kalimantan Barat, Anton P Widjaya, menyatakan fakta tahun ini, titik api sangat tinggi di Kalimantan Barat. Hal ini menjelaskan bahwa klaim perbaikan tata kelola gambut yang selama ini dilakukan di Kalimantan Barat telah gagal. 

Kepala Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Eksekutif Nasional Walhi, Khalisah Khalid mengatakan, komitmen penegakan hukum yang sempat dilontarkan oleh Presiden di tahun 2015 dan awal 2016, semakin melemah dengan mengatasnamakan keterlanjuran. Akibatnya, korporasi semakin merasa mendapatkan angin, dan bahkan terus melakukan upaya pembangkangan hukum. 

"Penegakan hukum lebih banyak bersifat pemberian sanksi administratif yang tidak memberikan efek jera sedikitpun bagi korporasi," katanya dikutip dalam siaran persnya.

Ironinya, dilanjutkan Khalisah, penegakan hukum yang seharusnya ditujukan bagi korporasi, yang telah melakukan pelanggaran hukum, justru berbelok menyasar masyarakat adat, masyarakat lokal dan petani.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berbagai pernyataan dari aparat keamanan seperti “tembak di tempat bagi pelaku pembakaran”, menunjukkan bahwa aparat keamanan gagal melihat bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut adalah problem struktural, yang disebabkan oleh pelanggaran hukum oleh aktor yang memiliki kekuatan ekonomi. 

“Kami mendesak Presiden, .segera mengeluarkan kebijakan moratorium sawit, dan investasi monokultur skala besar lainnya. Jika tidak, kami khawatir target pembenahan tata kelola hutan, dan ekosistem rawa gambut tidak akan tercapai, dan kebakaran hutan dan gambut, akan terus terjadi, karena kerusakannya jauh lebih cepat dibandingkan dengan upaya pemulihannya,” ujarnya. (asp)

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi.

Mendag Lutfi Dinobatkan Jadi Pemimpin Terpopuler oleh Warganet

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, dinobatkan sebagai Pemimpin Paling Populer 2021. Penghargaan diberikan oleh PR Indonesia.

img_title
VIVA.co.id
10 Desember 2021
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut