Misteri Gempa Menjalar Nusantara
- Magma Indonesia
Bahkan gempa dahsyat yang memicu tsunami Tohuku 2011 yang menelan korban puluhan ribu orang, menjadi catatan penting bahwa prediksi yang mereka lakukan ternyata meleset.
Amerika serikat tidak kalah hebat dalam riset prediksi gempa. Megaproyek prediksi di sesar besar San Andras untuk menjawab kapan "the big one" datang ternyata juga tak memberi hasil.
Jalur sesar San Andreas ini terus dimonitor dinamikanya dengan GPS. Alat pengukur regangan strainmeter, tiltmeter dikerahkan dan dipasang di beberapa lokasi jalur sesar, monitoring gas radon dan lain-lain semua diterapkan. Tetap tak ada hasil juga. Banyak ahli gempa yang "lempar handuk" dengan riset prediksinya.
Tiga negara itu jawara riset prediksi gempa dengan menggunakan pengukuran yang paling akurat, precursor gempa dan tingkah laku binatang.
Konon hanya China yang masih bersemangat meneruskan riset prediksi gempa. Jepang dan ASÂ kini lebih tertarik mengalokasikan anggaran dana untuk mitigasi gempa, penguatan struktur dan masyarakat di kawasan berisiko.
Meski kajian prediksi tetap dilakukan, tapi bukan lagi menjadi prioritas mereka. Kini di dunia, hingga saat ini, tidak ada satu pun lembaga resmi dan pakar yang kredibel serta diakui mampu memprediksi gempa.
Pakar gempa sedunia kini pun sepakat bahwa gempa memang belum dapat diprediksi dengan akurat kapan di mana dan berapa magnitudonya.
Untuk itu, dalam hal informasi gempa, pastikan diperoleh dari sumber-sumber yang kredibel, formal, dan resmi. Ada alamat kantornya, ada telepon yang dapat dihubungi dan ada nama-nama petugas serta ahli yang jelas posisinya, sehingga dapat dihubungi untuk dimintai keterangan dan diskusi.
Saat ini banyak lembaga resmi pemberi info gempa seperti BMKG, USGS Amerika Serikat, JMA Jepang, GFZ Jerman, EMSC Mediterania, Geoscope, CEA China, dan lainnya.