Dilema Kesehatan Gigi dan Mulut
- Pixabay/pexels
Meski angkanya tidak tinggi, komplikasi yang terjadi akibat sakit gigi sering terjadi. Beberapa waktu lalu seorang pria di Amerika Serikat meninggal dunia setelah mengalami sakit gigi yang parah.
Dilansir Daily mail, seorang pria (26) asal California, Vadim Kondratyuk, meninggal dunia setelah dua pekan sebelumnya mengeluhkan sakit gigi.
Awalnya sopir truk itu mengabaikannya karena berharap akan membaik dengan sendirinya. Namun, kian hari sakitnya bertambah buruk bahkan setelah dokter memeriksanya dan memberi Vadim antibiotik.
Seorang dokter gigi di rumah sakit Oklahoma sempat mendiagnosis bahwa gigi Vadim mengalami infeksi, lantas dibersihkannya dan dokter meresepkan antibiotik. Setelah pengobatan itu, Vadim sempat merasa kondisinya sudah membaik.
Namun, sesampainya di New York dan sepanjang perjalanan pulang ke California, pipi Vadim membengkak hingga sulit bernapas, bahkan tidak bisa berdiri. Akhirnya Vadim kembali mengunjungi rumah sakit terdekat dan segera mendapat penanganan.
Tapi, kata dokter, infeksi di mulut Vadim telah meluas dan menyebar di seluruh tubuhnya. Bahkan, paru-parunya juga mengandung cairan sehingga mengakibatkan dirinya susah bernapas. Lebih lanjut dokter menjelaskan bahwa aktivitas bakteri terus meningkat sehingga infeksi menyebar sampai ke paru-paru.Â
Karena sudah telanjur meluas sedemikian rupa, dokter tidak bisa membersihkannya. Antibiotik pun sama sekali tidak berpengaruh. Setelah beberapa hari dirawat, akhirnya Vadim dinyatakan meninggal dunia.
Setelah kematian Vadim, banyak ahli gigi yang mencari tahu apa yang sebenarnya menimpa Vadim. Dilansir laman People, Dr. Richard Niederman, kepala bidang Kesehatan dan Epidemiologi di Universitas Kedokteraan Gigi di New York menjelaskan rongga mulut merupakan bagian yang paling kotor dari tubuh manusia.Â
Di dalam mulut ada sekitar 500 hingga 1.000 jenis bakteri berbeda. Sementara itu, jumlah bakteri dalam mulut bervariasi antara 100 hingga 1 miliar.
"Dalam rongga mulut yang sehat, bakteri berfungsi sebagai flora normal. Namun jika ada kondisi lain seperti daya tahan menurun, plak, gigi lubang, penyakit kronis maka ada ketidakseimbangan flora," ujarnya.
Dalam situasi tersebut, bakteri baik bisa berubah menjadi jahat. Bila ada gigi yang rusak sampai kemudian terjadi abses, maka akan menjadi tempat berkumpul bakteri. Bakteri ini bisa ikut menjalar ke aliran darah di tubuh, kemudian menetap di bagian tubuh yang lemah.