Saatnya Cabut Pembatasan Akses Media Sosial

Ilustrasi sejumlah ikon media sosial.
Sumber :
  • Pixabay

Skema jalur komunikasi data pada kondisi tidak menggunakan VPN yaitu pengguna - internet - server, dan dengan menggunakan VPN maka jalurnya menjadi pengguna - internet Indonesia - VPN- internal VPN - internet luar negeri - server.   

img_title Isi Medsos di Jerman Bakal Diatur, 1 dari 5 Konten Wajib Berasal dari Media Tertentu

VPN bisa dikatakan solusi sementara namun sangat berisiko bagi pengguna. Laman Restoreprivacy dikutip Rabu 22 Mei 2019, menunjukkan ada tujuh alasan layanan VPN sangat berbahaya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pertama, penelitian CISRO menunjukkan lebih dari 38 persen aplikasi gratis VPN mengandung malware alias program berbahaya. 

img_title Prancis Minta Media Sosial TikTok hingga Instagram Diblokir Cegah Kerusuhan Lanjutan

Malware bisa datang dalam bentuk apa pun dan yang tersembunyi pada VPN bisa mencuri data dan digunakan untuk menargetkan iklan dan e-mail spam pengguna. Selain itu juga bisa membajak akun secara online. 

Kedua, VPN dapat melacak untuk mengumpulkan data pribadi penggunanya. Studi CSIRO mencatat, 75 persen dari 283 VPN mengandung pelacakan pada kode sumber. Pengumpulan data ini bisa bernilai bagi iklan dan juga analitik. 

img_title Polisi Rekonstruksi Jalur Pelajar dari Bekasi ke Jakarta, Dalami Peran F alias Batak

Ketiga, saat data pengguna dikumpulkan oleh VPN, akan dijual atau ditransfer pada pihak ketiga. Ini demi kepentingan keuntungan semata. Salah satu contohnya Opera Free VPN yang saat ini dimiliki konsorsium China. Keempat, sejumlah bisnis menggunakan VPN gratis untuk mencuri bandwidth dan menjualnya kembali pada pihak ketiga.

Selanjutnya, VPN ini berpotensi membajak browser pengguna. Keenam, penelitian CSIRO menemukan, 84 persen VPN gratis membuka IPv6 pengguna yang nyata dan unik secara global. Selain itu juga 60 persen VPN gratis membocorkan permintaan DNS, ini membuat riwayat dan lokasi browser pengguna terbuka. Terakhir, data yang dikumpulkan VPN berpotensi dipakai untuk penipuan. 

Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya mengibaratkan, menggunakan VPN artinya pengguna memercayakan semua trafiknya dipantau pemilik server VPN. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Artinya, kalau pemilik server VPN menjadi kuasa atas trafik pengguna kapan saja. Pemilik server VPN, kata Alfons, akan mudah menyelipkan malware pada trafik solusi mereka. "Pengguna VPN akan sulit mencegah hal ini terjadi," kata dia, Kamis 23 Mei 2019. 

Belakangan, publik disadarkan memasang VPN membawa risiko, yakni pemantauan, pengumpulan hingga pembajakan data pribadi pengguna. Responsnya, beberapa pengguna kemudian mencopot aplikasi VPN begitu mengetahui risikonya, mereka merasa tidak nyaman.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut