Massa yang Marah dan Aparat yang Lelah
- ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefuddin, menjenguk mahasiswanya itu. Kepada wartawan, Asep mengatakan, Kampus Al Azhar tidak melarang atau menganjurkan mahasiswanya untuk berunjuk rasa di gedung DPR/MPR. Namun otoritas kampus sedari awal sudah mewanti-wanti agar para mahasiswa tidak bertindak anarkis ketika berdemonstrasi.
Universitas sebelumnya berharap para mahasiswa membuat konsep yang terbaik untuk disampaikan kepada DPR dan pemerintah. Namun para mahasiswa kampusnya akhirnya lebih memilih untuk turun ke jalan. "Yang namanya mahasiswa kan, tentunya bagian dari euforia politik kemahasiswaan," katanya usai menjenguk Faisal Amir di Rumah Sakit Pelni, Jakarta, Rabu, 25 September 2019.
Gubernur DKI Anies Baswedan, mengatakan ada tiga demonstran yang mendapat luka serius karena terjadi pendarahan di selaput darah, otak, hingga tulang belakang. Secara keseluruhan, ujar Anies, ada 273 pengunjuk rasa yang harus dirawat karena menderita luka. Dari 273 pengunjuk rasa, mayoritas sudah diperbolehkan pulang karena sakit yang mereka derita tidak terlalu parah. "Per tadi malam (24 September 2019), mayoritas (pengunjuk rasa yang dirawat) sudah bisa pulang," ujar Anies.
Demo mahasiswa di depan gedung DPR MPR berujung ricuh
Di Sulawesi Selatan beredar video polisi yang memburu mahasiswa hingga masuk ke dalam masjid. Bentrokan antara polisi dan mahasiswa terjadi setelah ribuan mahasiswa Makassar dari berbagai kampus di antaranya Mahasiswa Univeritas Hasanuddin, Univeritas Muslim Indonesia, Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Bosowa Makassar turun ke jalan menuntut sejumlah kebijakan pemerintahan Jokowi yang tidak pro rakyat.Â
Massa demonstran yang berkumpul di depan kantor DPRD Sulawesi Selatan berusaha dipukul mundur oleh aparat. Namun mahasiswa memilih bertahan, hingga akhirnya terjadi aksi saling lempar batu. Sejumlah mahasiswa yang berlari masuk ke dalam masjid dikejar polisi. Aparat menyerbu masuk, dan menyeret dua mahasiswa dari dalam masjid.Â
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani kepada wartawan melakukan klarifikasi video viral tersebut. "Setelah dilakukan pengecekan di lapangan, bahwa memang betul masjid itu ada di sebelah kantor DPRD Sulsel," ujar Dicky Sondani.
Sehubungan dengan kejadian tersebut, Polda Sulsel meminta maaf. "Oknum (polisi) yang melakukan tindakan berlebihan akan diproses secara hukum. Namun mahasiswa pelaku pelemparan juga akan diproses secara hukum. Propam segera melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut," kata Dikcy.