Massa yang Marah dan Aparat yang Lelah

Polisi memukuli mahasiswa saat bentrok di depan kantor DPRD Sulsel, Makassar
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Bentrokan yang terjadi antara massa mahasiswa dengan aparat biasanya pecah menjelang sore hari. Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adie Prayitno mengatakan, tindakan represif polisi yang bisa berakhir dengan terjadinya bentrokan antara polisi dengan demonstran biasanya terjadi karena dua alasan. Pertama, dalam batas tertentu aparat sudah tak bisa lagi menoleransi waktu yang diberikan. Izin demonstrasi biasanya berakhir di jam enam sore. Jadi kalau sudah lewat izin masih ada demo, maka polisi akan mengambil tindakan. Tapi, ujar Adie, biasanya demonstran juga diberikan toleransi sampai pukul 21.00 WIB.

img_title Wakapolri Wanti-wanti Aksi Black September, Anak Buah Diminta Cegah Konflik

Kedua, tindakan represif juga bisa dilakukan oleh polisi jika massa mahasiswa merusak fasilitas publik seperti tembok, pagar, atau melakukan aksi vandalisme. Maka polisi dipastikan akan melakukan tindakan represif. "Padahal polisi Indonesia sekarang sudah mengalami reformasi besar-besaran. Salah satunya adalah melakukan tindakan persuasif setiap menghadapi demonstrasi. Tapi itu semua ada batas toleransinya," ujar Adi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Adi mencontohkan aksi mahasiswa yang dilakukan pada Senin, 23 September 2019. Menurutnya, aksi mahasiswa yang sempat memaksa masuk akhirnya berhasil dibubarkan sekira pukul 22.00 WIB, tanpa kekerasan. Meski tak bisa memastikan apa negosisasi yang ditawarkan oleh polisi pada mahasiswa, tapi Adi yakin ada tindakan persuasi yang berhasil diterima oleh mahasiswa. 

img_title Dikaitkan dengan Ojol Melva yang Viral, Politisi PDIP Ellen Taroreh Lapor ke Polda Metro

Polisi memukuli mahasiswa saat bentrok di depan kantor DPRD Sulsel, MakassarDemo di Makassar berujung bentrok

Kepala Staf Presiden Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menjelaskan, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar penanganan demonstrasi tidak represif tetapi proporsional. Tapi ada penyebab munculnya tindakan yang tidak terkontrol dari aparat, hingga berujung represif. 

img_title Viral Istri Sah Geruduk Kantor Pelakor, Bawa 20 Polisi hingga Bongkar Bukti Chat dan Pembelian Mobil

"Saya paham betul bagaimana persoalan psikologi harus dikelola dengan baik. Psikologi di lapangan itu,  menghadapi psikologi massa. Psikologi massa itu juga punya ambang batas kesabaran juga punya ambang batas emosi, dia juga punya ambang batas kelelahan dan seterusnya. Sehingga ini menimbulkan uncontrolled," ujar Moeldoko di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu 25 September 2019.

Ia mengatakan, aparat keamanan memang dibekali dengan tes psikologi. Tetapi saat lelah dan batas emosi terlampaui, hal itu bisa memicu tindakan represif. Terlebih, kebanyakan adalah anggota baru seperti di Kepolisian.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut