Karena KRL Setitik, Bisa Rusak PSBB se-Jakarta Raya

Rangkaian KRL Commuter Line melintas dikawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

VIVA – Sejumlah kepala daerah mendesakkan lagi usulan mereka agar pemerintah pusat menghentikan sementara operasional kereta commuter line yang melintasi wilayah-wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Alasannya bukan lagi spekulasi belaka melainkan fakta: tiga orang dari ratusan penumpang yang diperiksa secara acak ternyata positif terinfeksi virus corona.

img_title 12 KRL Bogor Dibatalkan Hingga 30 September, Ada Apa? Ini Daftarnya

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengingatkan kepada pemerintah pusat bahwa orang-orang seperti ketiga penumpang yang positif itu, meski tampak sehat walafiat, potensial membawa virus dan menularkannya kepada orang lain. Apalagi cukup kerap ditemukan kereta rel listrik itu penuh penumpang hingga berdesak-desakan, mustahil menerapkan protokol menjaga jarak (physical distancing).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ridwan mengkhawatirkan, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Jakarta Raya bisa berantakan dan gagal total karena salah satu sarana potensial penularan Covid-19 tak dihentikan. Tidak hanya DKI Jakarta, daerah-daerah di sekitarnya juga bakal menanggung beban kian besar kalau makin banyak yang tertular. Soalnya sebagian besar penggunanya memang warga Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

img_title KAI Pastikan Operasional Commuter Line Normal di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Pernah ditolak

Para kepala daerah di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sebetulnya pernah mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk menghentikan sementara operasional KRL pada pertengahan April lalu. Tujuannya untuk membatasi pergerakan orang terutama selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

img_title Bukan Ditutup, Ini Alasan KAI Integrasikan Stasiun Karet dengan BNI City

Namun, pada 17 April 2020, Kementerian Perhubungan menolak saran itu karena menganggap kereta penglaju masih dibutuhkan oleh masyarakat, terutama para pekerja yang dikecualikan atau dibolehkan tetap bekerja selama masa PSBB. Kementerian hanya membuat aturan untuk membatasi jumlah penumpang di setiap kereta agar para penumpang dapat menjaga jarak, membatasi jam operasional, dan menerapkan protokol kesehatan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sayangnya tak semua aturan itu ditaati. Kereta-kereta komuter tetap penuh penumpang dan bahkan berdesak-desakan. Pemandangan penumpukan atau antrean calon penumpang di banyak stasiun juga kerap dijumpai setiap hari. Kereta sesak dengan penumpang biasanya pada jam berangkat kerja saat pagi dan waktu pulang kerja kala sore.

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sebagai operator KRL mengklaim, sesungguhnya jumlah penumpang berkurang signifikan sejak penerapan PSBB, di Jakarta maupun daerah-daerah sekitar. Jika hari-hari normal penumpang kereta penglaju mencapai 900 ribu hingga 1,1 juta orang per hari, sekarang rata-rata hanya 200 ribu orang per hari.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut