Ambisi Alibaba di Asia Tenggara
- Reuters
Bicara soal potensi Lazada, untuk pasar Asia Tenggara terlihat pertumbuhan yang menggiurkan. Faktanya, Lazada mengumumkan Gross Merchandise Value (GMV), atau total transaksi di situsnya mencapai US$1,3 miliar untuk per tahunnya.
Total transaksi tersebut tersebar di enam cabangnya di Indonesia, di antaranya Medan, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Kemudian, juga menyebar di Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Kontribusi mobile terhadap GMV Lazada mencapai 60 persen pada akhir 2015, seiring dengan banyaknya konsumen yang berbelanja lewat smartphone. Lazada mengaku aplikasinya juga telah diunduh hingga 30 juta kali pada periode yang sama.
Jika dilihat dari enam bulan pertama pada tahun lalu saja, menurut laporan Rocket Internet yang dikutip Tech In Asia, sudah terlihat bagaimana pertumbuhan Lazada. Tercatat pada semester pertama itu, pembeli telah menghabiskan US$433 juta. Angka tersebut empat kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, dikutip dari Tech Crunch, pada sembilan bulan pertama 2015, data menunjukkan Lazada telah mencetak nilai penjualan senilai US$191 juta. Saat ini, Lazada memiliki 5,7 pengguna aktif. Angka pengguna itu juga empat kali lipat dari 1,4 juta pengguna aktif pada pertengahan 2014.
Â
Tak cukup di situ saja. Di masa depan, pasar Asia Tenggara juga potensial bagi bisnis online. Memang, saat ini kelas menengah di kawasan ini masih terbilang kecil. Tapi, menurut data Nielsen, diperkirakan ada 190 juta orang kelas menengah di kawasan tersebut.
Angka kelas menengah di Asia Tenggara kemungkinan akan tumbuh lagi pada 2020, yang diproyeksikan tumbuh menjadi 400 juta orang.
Alibaba penyelamat Lazada
Meski pertumbuhan dan nilai penjualan Lazada menunjukkan perkembangan, Tech Crunch menuliskan, di sisi lain perusahaan yang dikenal sebagai Amazon-nya Asia Tenggara itu didera kerugian operasi mencapai US$233 juta pada periode sembilan bulan pertama 2015.
Kerugian itu lantaran biaya habis untuk program akuisisi pengguna, insentif yang dibayarkan kepada para merchant (pedagang) dan biaya pemasaran umum. Kondisi itu mengakibatkan pada penghujung tahun lalu dilaporkan Lazada telah mengalami problem krisis finansial perusahaan.