Ambisi Alibaba di Asia Tenggara
- Reuters
Mantan dirut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk itu menilai, pembelian Lazada oleh Alibaba, karena Asia Tenggara tak dipungkiri sudah menjadi primadona bagi berbagai perusahaan global. Sebab, cakupan pasar kawasan ini begitu besar dan peluang untuk tumbuhnya sangat berpotensi terealisasi.
"Saya rasa ASEAN salah satu market besar, jumlah penduduknya lebih dari 500 juta orang dan netizen-nya sekitar 200-300 juta orang, itu market besar. Meski transaksi online masih kecil dibandingkan di Tiongkok dan Amerika Serikat. Tapi, diperkirakan lima tahun mendatang jumlah transaksinya tidak akan beda jauh. Makanya, ada yang mengakuisisi perusahaan regional, karena market-nya besar," tutur Kristiono.
Namun di sisi lain, kekuatan Alibaba akan sulit ditandingi seperti pemain lokal dari Indonesia. Dikatakan Kristiono, itu akan menjadi tantangan terbesar Indonesia untuk terus menumbuhkan industri e-commerce beserta pemain asli lokalnya untuk tetap bersaing dengan pemain e-commerce global.
"E-Commerce itu berkaitan dengan Small Medium Enterprise (SME). Jadi, persoalan kita adanya pemerintah memperhatikan SME, karena mereka masih bermasalah soal manajemen, produk, keuangan, akses market, dan lainnya. Kalau tidak, e-commerce tumbuh dengan investasi asing, barang asing, itu tidak akan memberikan apa-apa untuk Indonesia. Indonesia akan dijadikan pasar dan kita sebagai pembelinya," ucapnya.
Sementara itu, pengamat telekomunikasi dari Indotelko Forum, Doni Darwin meminta pemerintah mencermati dampak dari akuisisi tersebut.
Pemerintah Indonesia pun diminta berhati-hati dan harus mulai berpikir ulang terkait wacana Daftar Negatif Investasi (DNI) sebesar 100 persen bagi e-commerce. Dia mengatakan, munculnya akuisisi itu mencerminkan e-commerce di Indonesia tak punya isu terkait pendanaan. Akuisisi itu, menurutnya, membuktikan pemain asing malah berlomba untuk masuk ke Indonesia.
"Lazada dibeli, pasti karena faktor eksistensinya di Indonesia. Data pernah menyebutkan, 76 persen pendapatan Lazada secara global, berasal dari pasar Indonesia. Indonesia adalah pasar masa depan, jadi kalau DNI dibuka 100 persen, negara ini akan dapat apa?" ujar Doni, kepada VIVA.co.id, Rabu 13 April 2016.
Doni mengatakan, hal tersebut berdasarkan akuisisi serupa yang pernah dilakukan e-commerce lain. Sebut saja, ketika Tokobagus diakuisisi OLX. Karena itu, jika DNI dibuka semua, Indonesia tanpa sadar akan menjadi jajahan digital. Indonesia, ditegaskan Doni, tidak butuh dana karena hal itu akan datang dengan sendiri.