Ambisi Alibaba di Asia Tenggara
- Reuters
"Yang susah itu adalah do business di Indonesia, makanya pemain kayak Alibaba itu beli Lazada. Karena mereka tidak perlu membangun ekosistem lagi untuk masuk ke Indonesia. Pemerintah harus permudah do business, bukan buka keran sampai go naked di bisnis digital," kata dia.
Mempermudah proses berbisnis, dijelaskan Doni, di antaranya seperti mempermudah urusan perpajakan, pendirian usaha, dan lainnya. "Ingat, esensi DNI itu soal keberpihakan dan perlindungan investor lokal, bukan masalah dana saja," katanya.
Selain itu, kata dia, sudah saatnya pemerintah membuat aturan merger akuisisi di e-commerce. Hal ini perlu dilakukan untuk melindungi konsumen dan merchant (pedagang), termasuk melindungi data privasi.
"Waktu Berniaga dan Tokobagus akuisisi, mereka gabung database pengguna," tuturnya.
Akuisisi Lazada oleh Alibaba juga patut diwaspadai, sebab aksi korporasi seperti itu bisa juga melanda entitas lokal, misalnya PT Pos, TIKI atau JNE. Sebab, menurut Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Daniel Tumiwa, jika sudah bicara akuisisi tidak pandang bulu entitas perusahaannya.
"Aksi korporasi itu kan bagaimana pemilik perusahaan. Apakah nanti beli PT Pos, TIKI, atau JNE itu gimana mereka yang mau beli, kita tidak bisa tahan," ucap Daniel yang juga menjabat CEO OLX Indonesia.
Usai mengakuisisi Lazada yang merupakan pemain besar di pasar Indonesia, tak lantas membuatnya bisa mulus. Sebab, kehadiran Alibaba melalui Lazada itu harus bersaing kuat dengan pemain e-commere lokal, yaitu Tokopedia dan MatahariMall.
Tokopedia belum lama ini telah mendapatkan suntikan dana segar US$147 juta. Sebelumnya pada November 2014, Tokopedia telah mendapat suntikan dana US$100 juta dari Softbank Internet and Media dan Sequoia Capital. Sementara itu, MatahariMall juga patut diwaspadai karena disokong oleh kelompok orang kaya di Indonesia.