Budi Gunawan Muncul Lagi Jadi Calon Kapolri
- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Sementara Ketua Komisi III Bambang Soesatyo dari Fraksi Partai Golkar pesimistis jika pelantikan kapolri yang baru nanti akan tepat waktu. Memasuki pekan kedua pada bulan Juni kata dia, Presiden saja belum menyodorkan nama. Padahal masih diperlukan persiapan uji kepatutan dan kelayakan hingga penetapan di Paripurna.
"Rangkaian proses dan tahapan yang harus dilalui tidak memungkinkan untuk DPR menetapkan Kapolri baru pada bulan Juli 2016," kata Bambang Soesatyo sebelumnya.
Keluar dari Tekanan Politik
Di tengah wacana dan dukungan atas nama-nama calon kapolri, khususnya terhadap BG, Presiden Jokowi sebenarnya sudah menyampaikan pernyataan pekan lalu. Jokowi berjanji mendengarkan publik dalam penentuan nama pengganti Badrodin tersebut. Jokowi secara normatif menyampaikan bahwa acuannya memutuskan jabatan krusial itu tak lepas dari aturan dan perundangan yang berlaku.
“Tapi akan lebih baik memilih yang sudah ada dan dudah disetujui DPR sebelumnya,” kata Jokowi.
Berbeda dengan gerakan penolakan BG pada tahun lalu, kali ini koalisi masyarakat sipil termasuk para aktivitas antikorupsi cenderung tak bersuara keras dan lantang merespons pengusungan BG oleh sejumlah pihak.
Dihubungi VIVA.co.id, Aktivis antikorupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Donal Fariz mengatakan menyerahkan keputusan tersebut sepenuhnya kepada Jokowi. Namun dia berharap, Presiden bisa mempertimbangkan jejak rekam dan pengalaman masa lalu dalam menentukan kandidat nantinya.
Donal mengatakan, soal pantas tidaknya seseorang menjadi kapolri bisa dianggap relatif. Namun dia mengharapkan bahwa pemimpin Polri adalah orang yang loyal terhadap negara dan Presiden, bukan kepada partai politik tertentu.
Berkaca pada pemilihan kapolri pada tahun lalu, polemik dan pro-kontra malah berkepanjangan. Hal tersebut kata dia, bisa memicu adanya persaingan pihak tertentu dan menyebabkan kontroversi yang pada akhirnya harus dibereskan Jokowi sendiri. Sementara kontroversi terhadap BG pada tahun lalu tidak akan bisa hilang begitu saja.
“Kami berharap Presiden tidak kembali salah langkah dan memicu polemik dalam penentuan kapolri,” kata Donal.
Dihubungi secara terpisah, Aktivis yang juga Sekretaris Konferensi Wali Gereja Indonesia, Romo Benny Susetyo meminta Jokowi memilih calon terbaik. Dia mengingatkan agar paling tidak, calon kapolri yang bakal dipilih harus bisa meniru gaya mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso. Meskipun Benny memang tak bisa menyebutkan calon saat ini yang dimaksudkannya paling mirip dengan sosok sederhana Hoegeng itu.