Ahok 'Main-main' dengan Kitab Suci
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
"Jangan menyinggung hal itu (ayat suci Alquran), saya ingatkan. Sampaikan apa yang sudah kita kerjakan. PDIP sudah sepakat, kita pusatkan perhatian pada satu kawasan pembangunan menurut RPJMD," kata dia.
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengaku terusik dengan sikap Gubernur Ahok yang mengeksploitasi sisi agama dan sukunya dalam pertarungan Pilkada DKI 2017. Ia menilai, Ahok seperti tidak percaya diri di ruang publik.
"Saya terus terang, tidak sepakat dengan sikap over acting saudara Ahok yang mengeksploitisir unsur-unsur agama dan kesukuannya. Ini membuktikan saudara Ahok itu minder," ujar Fahri di Gedung DPR RI, Kamis, 6 Oktober 2016.
Fahri mengatakan, sebagai pejabat publik, Ahok berada di ruang publik. Dengan demikian, secara otomatis Ahok dinilai sudah menjadi milik publik yang terdiri dari banyak suku dan agama. Sedangkan soal agama, menurutnya, adalah ruang privat yang tidak perlu dipersoalkan oleh Ahok.
"Jadi, misal di Islam ada interpretasi soal pemimpin, ya biarin aja, kenapa terganggu. Ya, Anda jadi pemimpin yang baik saja. Benar enggak Anda tidak korupsi? Begitu Anda masuk ruang publik, itu Anda punya semua orang kok, semua agama," kata Fahri.
Pembelaan Ahok
Sementara itu, Ahok sendiri merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya mengutip kitab suci. Gubernur DKI Jakarta itu menegaskan, ucapannya yang mengutip ayat 51 surat Al Maidah di Alquran saat berdiskusi dengan warga Kepulauan Seribu, bukan bentuk penghinaan terhadap kitab suci umat muslim.
Menurut Ahok, ada seseorang yang sengaja memotong klip perkataannya dari video dokumentasi pertemuan yang diunggah Dinas Komunikasi, Informatika, dan Kehumasan DKI ke saluran YouTube resmi Pemprov DKI.
Â
Pemotongan dilakukan tepat saat Ahok, sapaan akrab Basuki, menghubungkan konteks ayat 51 surat Al Maidah dengan kecemasan warga terhadap keberlangsungan program pemberdayaan pembudidaya Kerapu yang sedang dia tinjau.
Ahok saat itu meminta warga supaya tidak merasa terpaksa memilihnya, karena ayat 51 surat Al Maidah ditafsirkan sebagian kalangan, sebagai larangan bagi umat muslim untuk tidak memilih pemimpin bukan dari kalangan mereka.