Wiro Sableng Goes to Hollywood
- instagram.com/vinogbastian__
Wiro Sableng 212 ini juga akan dikemas menjadi sebuah film yang ringan namun tidak sederhana. Angga menjelaskan, penuturan ceritanya akan disesuaikan agar penonton bisa menikmatinya dengan lebih mudah. Namun proses penggarapannya harus sangat serius, karena Wiro Sableng adalah kisah yang legendaris di Indonesia.
"Tahapannya banyak sekali karena action gitu, jadi kita harus ada video board kemudian ada pre-visualization, kemudian ada CGI, kemudian juga dengan kamera kita harus mikirin flownya gimana, posenya gimana. Belum lagi ditambah casting. Kita perlu casting yang panjang. Karena karakter di film ini enggak cuman yang tadi kita lihat. Semua membutuhkan waktu. Ditambah lagi dengan fighting harus ada koreo, pemain harus belajar koreo tersebut. Sehingga dengan syuting mereka menjadi fighter. Jadi believable fightingnya," kata Lala menjelaskan.
Terkenal di kalangan generasi 80 dan 90-an, mengangkat lagi karakter Wiro Sableng saat ini tentu jadi tantangan tersendiri. Namun pihak produksi yakin, dengan dukungan, strategi promosi, dan marketing bisa membawa Wiro juga dicintai generasi masa kini.
"Warna-warna, desain baju, CGI, musik, setting enggak akan pakai pendekatan old school, kita akan pake yang kini supaya penonton kita hari ini kan anak-anak muda, waktu dia nonton, dia punya kebanggaan Indonesia punya production value dan tampilan sama kayak studio sebelah. Bahkan lebih unik karena bisa nuansa etnik yang sehari-hari ternyata bisa ditranslate jadi dimensi hiburan yang keren, jadi cinema experience yang baru," ujar Angga.
Dedikasi untuk Sang Ayah
Berperan sebagai tokoh utama di film Wiro Sableng 212, jelas menyimpan cerita mendalam buat Vino G. Bastian. Hal itu terjadi karena sang ayah, Bastian Tito, adalah penulis yang menciptakan karakter fiksi legendaris tersebut. Awalnya, Vino sendiri tak berharap banyak untuk mengambil peran utama sebagai pendekar 'sableng' itu. Ia hanya tertarik untuk menjadi sosok di balik layar saja.
"Saya tertarik di belakang layar, awalnya. Sebetulnya saya enggak terlalu mengerti Wiro Sableng 100 pesen, tapi seiring berjalannya proses, mereka kan mencari Wiro," ujar Vino, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.