Kontroversi Ganja Jadi Obat
- Reuters
2. CBD (Cannabidiol); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.Â
3. CBC (cannabichromene); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.
4. CBG (cannabigerol); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.
5. CBN (cannabinol); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.
6. THCA (tetrahydro cannabinoic acid); senyawa ini bersifat non-psikoaktif.Â
Senyawa positif dalam ganja juga dibenarkan oleh peneliti lainnya. Peneliti Puslit Kimia LIPI Muhammad Hanafi, mengatakan, ada beberapa zat yang terkandung di dalam daun ganja. Tumbuhan dengan nama latin Cannabis sativa atau Cannabis indica ini memiliki zat yang bervariasi.
Hanafi mengatakan, senyawa positif yang terkandung dalam ganja disebut polifenol. Senyawa itu berfungsi sebagai antioksidan dan bisa menjadi bahan aktif untuk kesehatan. Sedangkan zat negatifnya bernama Tetrahydrokarbinol atau disebut dengan zat halusinogen.
"Polifenol secara umum berfungsi sebagai antioksidan dalam menangkap atau menetralisir radikal bebas. Bisa juga untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Polifenol, dikenal juga dengan senyawa flavonoid atau isoflavonoid," jelasnya.
Meskipun ada senyawa yang menyehatkan, menanggapi kasus ekstrak ganja yang digunakan Fidelis Ari untuk menyembuhkan sang istri, Hanafi merasa dibutuhkan penelitian lebih lanjut dan mendalam.Â
"Bisa saja kemungkinan senyawa itu berperan. Tapi itu perlu dibuktikan lagi. Meskipun secara umum, senyawa flavonoid seperti pada teh hijau, juga bisa digunakan untuk obat kanker," katanya.
Soal penelitian ganja di Indonesia memang tergolong ‘senyap’. Sebab hal ini terkait dengan status hukum ganja yang menjadi barang terlarang, meski dalam aturan dimungkinkan untuk kepentingan penelitian.Â
Sofna mengakui, penelitian ganja bisa dibilang maju mundur. Mau meneliti tapi dibatasi ketat oleh regulasi.Â
"Di Indonesia sendiri, penelitian senyawa apa pun dari tanaman ini belum ada," ujar dia.Â
Kondisi sebaliknya terjadi di luar negeri. Sudah banyak penelitian di luar terkait dengan manfaat dan senyawa ganja. Sofna mengatakan, penelitian di luar sudah menggunakan sampel hewan yakni tikus untuk membuktikan manfaat senyawa tersebut. Dan memang terbukti, kata dia, pengujian menunjukkan senyawa non psikoaktif pada ganja punya efek anti kanker, meski menurutnya, belum ada penelitian pada manusia.Â
Peneliti perempuan itu mengatakan, dalam skala penelitian sudah banyak negara yang mendalami senyawa dalam ganja, di antaranya Amerika Serikat, Italia, Spanyol sampai India.Â