Melawan Aksi Teror
- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Terlepas dari itu, aksi teror bom yang terjadi di Kampung Melayu ini dianggap pengamat teroris Al Chaidar sebagai bentuk kelalaian intelijen.
"Dalam kasus terorisme, respons negara yang paling efektif tentu mengandalkan tugas intelijen. Kalau sampai ada ledakan tentu yang dipersalahkan intelijen. Terlebih sebelum kejadian sudah banyak beredar ancaman serangan," kata Al Chaidar saat dihubungi VIVA.co.id.
Menurut Al Chaidar, intelijen dan aparat saat ini dianggapnya sudah terbagi fokusnya sehingga kinerjanya dianggap menurun. "Mungkin aparat saat ini lebih banyak diarahkan untuk mengkriminalisasikan ulama ketimbang memantau perkembangan terorisme. Ini sangat disayangkan tentunya," katanya.
Seharusnya, menurut Al Chaidar, intelijen dan aparat dapat fokus untuk membaca pergerakan terorisme, termasuk terus memantau kelompok-kelompok dan orang-orang yang dicurigai kuat berafiliasi dengan jaringan terorisme.
Al Chaidar juga meyakini jika teror bom bunuh diri di Kampung Melayu ini terkait dengan aksi teror bom panci sebelum-sebelumnya dan tentu jaringan yang sama.
"Pertama, mereka menggunakan bom panci untuk melakukan teror. Kedua, sasaran mereka jelas petugas polisi tanpa mempertimbangkan polisi tersebut beragama Islam atau tidak. Dan yang ketiga, timing simultan dengan teror Manchester dan Filipina," katanya.
Terakhir, menurut Al Chaidar, langkah paling efektif untuk menghadapi aksi terorisme yakni dengan memantau pesan-pesan yang dikirimkan para pelaku teror lewat media sosial, Facebook, dan telegram.