Pemerataan Pendidikan, Antara Harapan dan Kenyataan

Orangtua dan siswa mengamati pengumuman mengenai PPDB tahun 2017.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Calon siswa beserta wali murid antre pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMP melalui sistem zonasi di SMPN 2 Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (12/6/2017).

img_title Kemendikbud Dipecah Tiga, Prabowo Tunjuk Abdul Muti, Prof Satryo hingga Fadli Zon jadi Menterinya

FOTO: Calon siswa beserta wali murid antre pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMP melalui sistem zonasi di SMPN 2 Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (12/6/2017).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keluhan itu jelas bukan satu-satunya. Ini menjadi masalah seragam bagi seluruh orangtua yang terpatok paradigma lama bahwa prestasi anak akan menentukan sekolah yang baik.

img_title Saatnya Magang Mahasiswa Naik Kelas

Hasil ujian yang dulu diperjuangkan mati-matian oleh anak mereka kini bak sia-sia bagi para orang tua ini. Harapan bahwa mendapat sekolah bergengsi kini buyar sudah.

Suka tidak suka, para orangtua kini harus menerima kenyataan bahwa tak ada lagi sekolah favorit. Alhasil PPDB pun ricuh di mana-mana. Konsepsi yang mengakar di kepala orangtua siswa menjadi akar masalah utama.

img_title Kampus Merdeka: Inovasi Pendidikan yang Melahirkan Generasi Siap Bersaing

Dalih mereka pun sama bahwa zonasi telah membuat percuma perjuangan anak mereka untuk mendapatkan hasil ujian yang maksimal. "Sistem zonasi enggak akan membuat anak didik termotivasi untuk belajar lebih giat agar dapat NEM tinggi," tulis pengguna sosial lainnya, Tanti.

Sengkarut Masalah

Suka atau tidak, PPDB tahun ini terlanjur membuat sejumlah orang menggerutu. Baik masalah zonasi wilayah yang membuat kelimpungan, akses internet yang digagas lewat pendaftaran online atau dalam jaringan juga bermasalah.

Bagaimana tidak, meski dikonsepkan lewat online dengan tujuan mulia agar semua proses transparan dan tidak merepotkan dalam hal antrean.

Ternyata faktanya tidak begitu. Tak seluruh sekolah akhirnya menjalankan sistem online. Bahkan di Jawa Barat misalnya, akses laman PPDB mereka sangat sulit diakses hingga tanggal 10 Juli 2017 atau di hari terakhir pendaftaran online.

Alhasil orangtua dan siswa pun ketar-ketir menanti kejelasan nasib sekolah mereka. Sengkarut masalah ini pun diakui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Laman resmi PPDB Jawa Barat yang tak bisa diakses

FOTO: Laman resmi PPDB Jawa Barat yang tak bisa diakses

Catatan Inspektorat Kemendikbud total aduan mengenai PPDB 2017 bahkan mencapai 240,30 persen. "(Paling) Banyak ditemukan di Jawa Barat," ujar Irjen Inspektorat Kemendikbud Daryanto.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dan dari laporan itu, yang paling banyak dikeluhkan adalah sistem yang bermasalah. Di mana orangtua dan siswa kesulitan mengakses laman yang akan dituju untuk mendaftar PPDB.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut