Belajar dari Kasus Penyerangan Anjing Pitbull
- Pixabay
Selain itu, ia menerangkan bahwa jenis pitbull juga bersifat mudah berbaur dan akur dengan jenis anjing lain. Anjing jenis ini juga protektif terhadap keluarga atau si pemilik, serta beberapa kelebihan lain seperti sifat teritori yang sangat kuat sehingga direkomendasikan sebagai family dog atau anjing keluarga.
Sedangkan di Indonesia ada anggapan umum bahwa pitbull adalah satu jenis anjing yang galak dan agresif.
“Bahkan sampai ditolak dan tidak diakui sebagai breed resmi oleh Perhimpunan Kinologi Indonesia (Perkin), sehingga banyak yang merekomendasikan untuk tidak memelihara anjing Pitbull ini,” papar Slamet.
Asumsi semacam ini, lanjut Slamet, terbentuk di masyarakat karena sebagian besar anjing Pitbull di Indonesia digunakan sebagai anjing pekerja. Seperti dijadikan anjing aduan untuk diadu dengan babi hutan atau diadu dengan anjing lain serta sebagai anjing untuk lomba adu otot.
Dengan adanya asumsi tersebut, katanya lagi, sebagian besar masyarakat yang memelihara anjing pitbull dijadikan sebagai anjing penjaga rumah yang selalu dikandangkan di kandang yang biasanya biasanya berukuran relatif kecil.
Ia melanjutkan bahwa sebagai family dog dan anjing pekerja yang seharusnya setiap hari beraktivitas fisik secara cukup, ketika dikandangkan terus-menerus biasanya anjing Pitbull akan mudah mengalami bad mood atau bosan yang dapat memicu munculnya ‘problem behavior’ termasuk berubah menjadi lebih agresif karena sifat teritorinya.
Slamet menduga, bahwa anjing Pitbull peliharaan keluarga korban saat itu sedang dalam kondisi bad mood yang tidak kita ketahui dengan pasti penyebabnya. Sehingga ketika secara tiba-tiba ada anak kecil memasuki wilayah teritorinya, sebagai anjing yang memiliki naluri sebagai anjing pemburu, secara refleks sifat teritorinya muncul dan langsung berlari mengejar si anak dan menerkamnya, biasanya di area leher.
Ia menambahkan, dalam kondisi menggigit korban atau mangsa, Pitbull memiliki karakter yang unik dan berbeda dengan anjing breed lain.
“Sebab, semakin diganggu, gigitannya justru semakin kuat dan semakin tidak mau melepaskan gigitan, yang diduga menjadi penyebab meninggalnya si bocah yang digigit,” terang Slamet.