Mewarisi Roh Komedi Warkop DKI
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Itu yang saya pelajari dari Om Kasino. Memang Warkop itu kalau salah satu enggak ada nggak mungkin bisa lengkap, Kasino itu salah satu tiang dari Warkop juga. Semuanya punya tugas yang beda-beda tapi sama pentingnya.
Apa harapan untuk film Warkop kedua ini?
Indro: Harapan kami bahwa film ini akan menghibur banyak penonton di tengah banyak hal ini itu bikin stres sehari-hari. Saya pengen Warkop jadi pilihan untuk mengobati, bukan hanya kerinduan, tapi juga untuk lemesin aja lah. Jangan semua di keras-kerasin dan bisa mencapai jumlah penonton yang maksimal. Semoga film dalam negeri jadi tuan rumah di negeri sendiri.
Vino: Harapannya, Warkop bukan cuma sekadar film tapi juga budaya, Warkop itu Indonesia banget. Ini yang dibutuhkan saat ini, obrolan-obrolan Warkop, sosialnya Warkop, itu memang sangat dibutuhkan pada saat ini. Bagaimana persahabatan dan persaudaraan Warkop. Masalah intoleran, emosi yang enggak tahu kenapa jadi sangat tinggi saat ini, mudah-mudahan dengan kilas balik ke Warkop, bisa bikin kita adem.Â
Dengan Warkop, Tora dari suku Batak, saya Betawi, Dono dari Solo, itu Indonesia banget. Walaupun film komedi, makna tersirat Warkop itu luar biasa, enggak cuma jadi tontonan tapi tuntunan, enggak usah berat-berat tontonannya, enggak usah ceramahin orang, tapi bareng-bareng kita sama-sama lihat kekurangan diri sendiri untuk menjadi suatu kekuatan yang lebih besar untuk Indonesia.
Indro: Saya kalau ditanya sebutkan satu kata untuk Warkop saya bilang Indonesia. Kenapa? Dono, Kasino, Indro itu pernah enggak ngomong 3 tahun tapi enggak ada yang tahu. Kita punya anugerah namanya Warkop, kita punya anugerah namanya Indonesia.Â
Misalnya saya enggak suka sama Kasino atau sebaliknya tapi saya enggak perlu bunuh dia, enggak perlu jelek-jelekin dia. Itulah Indonesia itulah Bhinneka Tunggal Ika, karena sudah ada founder-nya, ada tujuannya. Kita harus jaga itu, harus kita syukuri.
Tora: Semoga diterima di masyarakat, orang senang nonton, kita senang buat.