Usaha Keras Roti Legendaris Tetap Eksis

Roti Tan Ek Tjoan
Sumber :
  • VIVA.co.id/Bimo Aria

Perkembangan teknologi pembuatan roti di Mesir, kemudian menyebar ke Yunani, hingga akhirnya masuk ke dataran Eropa. Pada saat itu, perkembangan roti mencapai puncaknya di mana roti dan gandum memiliki arti status sosial tertentu.

img_title Content Creator, Analis Kriptografi hingga Terapis Spa Masuk Kategori Pekerjaan Resmi di RI

Roti mewakili strata sosial masyarakat pada saat itu. Semakin gelap warna roti yang dikonsumsi, semakin rendah status sosialnya. Hal ini disebabkan tepung yang berwarna putih sebagai bahan utama pembuatan roti mempunyai harga yang sangat mahal, sehingga hanya masyarakat dengan status sosial tertentu yang mampu membelinya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sama seperti zaman dahulu, roti sekarang, juga mewakili strata sosial masyarakat. Roti-roti dengan aneka rasa kekinian, hanya bisa dinikmati oleh orang-orang dengan strata ekonomi yang mapan. 

img_title Barcelona Tertinggal Dulu, Raphinha Balikkan Keadaan dengan Hattrick

Namun, di tengah perkembangan usaha bisnis roti yang semakin modern, jangan heran jika saat ini masih ada usaha bisnis roti legendaris yang masih bertahan. Meski bisnis pastry and bakery selalu berkembang, rahasia resep roti legendaris tetap terjaga.

Meski rasanya sederhana, roti-roti legendaris ini, tetap jadi favorit. Bahkan, rasanya yang asli tanpa sentuhan kekinian, selalu bikin kangen lidah para penggemarnya.

img_title Houthi Serang Dua Target Arab Saudi, Riyadh Disebut Siapkan Respons Militer Besar

Sebut saja, roti-roti buatan pabrik Tan Ek Tjoan, Lauw, dan Guriyana. Tiga merek roti legendaris tersebut, hingga kini masih eksis di Jakarta, dan bisnis usahanya, masih terus berjalan.

Selanjutnya, mereka roti legendaris>>>
 

Tan Ek Tjoan

Roti Tan Ek Tjoan

Tidak seperti toko-toko roti modern seperti Holland Bakery, Harvest, atau pun Cheese Cake Factory, saat VIVA.co.id menyambangi toko roti legendaris ini terlihat sederhana. Saat menginjakkan kaki di Jalan WR Supratman 45, Ciputat, ruko itu berwarna oranye dengan ukuran hanya sekitar 4x8 meter. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hanya ada sebuah rak roti bertingkat empat yang posisinya memanjang. Isinya mulai tidak lengkap, terutama roti gambang yang jadi idola, benar-benar kosong. Sementara itu, di bagian dekat kasir, melintang lemari pendingin yang diisi tiga kue tart. Tapi siapa sangka di balik ruko kecil itu, terdapat pabrik penghasil semua produk roti Tan Ek Tjoan. 

Tiap pukul delapan pagi, semua roti baik manis, hingga tawar diproduksi di pabrik seluas kurang lebih 2.500 meter persegi. Semua proses produksi dimulai dari sebuah ruangan yang berisikan beberapa mixer cukup besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut