Andrian Ishak, Pelopor Molecular Gastronomy di Indonesia
- Istimewa
Awalnya orang skeptical ya. Malah sampai sekarang orang mikir kita enggak survive, karena bahan-bahannya molecular itu pasti mahal dan alat masaknya mahal. Tetapi, yang selalu aku tanamkan di diri aku, alat dan bahan itu sebenarnya murah, yang mahal itu kreatifitasnya, which is itu ada di aku. Banyak sekarang makanan kita enggak pakai alat canggih. It's all about creativity. Jadi, orang melihat bikinnya ribet, tapi enggak begitu juga. Jadi orang mikir kita enggak sustainable, dan aku bisa bilang dengan percaya diri, kita sustainable, sehat banget. Apalagi, makanan yang kita ambil Indonesian food. Kita enggak pake wagyu, foie gras, truffle dan fancy stuff. Biarin sih orang ngomong apa.
Jadi menu-menu di restoran Anda menu Indonesia?
Iya, dari awal menu Indonesia, Baru kemarin aja bikin international food.
Apakah sulit bikin masakan Indonesia memakai teknik molecular cooking?
Enggak sih. Justru itu, karena ragam masakan indonesia banyak banget, culture yang bisa dimasukkin dalam masakan indonesia juga luas. Jadi, itu yang menarik.
Masih cinta dunia musik?
Masih. Malah itu yang mau kita bikin. Orang dengerin lagu satu dan dua, tetapi makanan yang sama bisa rasanya beda. Jadi, kita lagi eksperimen itu. Jadi, dengerin high pitch (makanan) jadi lebih manis, low pitch, jadi lebih asam. I think music itu part of the experience di Namaaz juga.
Katanya, anak Anda ada yang hobi memasak juga. Apakah dia diajarkan molecular cooking?
Iya, jadi menurut dia ini magic. Namanya anak-anak, dia melihat sisi magical thing.
Sejauh ini, bagaimana respons pelanggan terhadap menu-menu masakan Indonesia di restoran Anda?
Anak-anak zaman now datang ke sini, hayo lho, ini bukan makanan Jepang, Italia. Ini makanan indonesia. Jadi, mereka enggak pernah makan combro, misro, oncom. Kalau di sini makan oncom, enggak bisa pilih yang lain. Jadi, mereka dapat experience-nya, mereka happy dengan itu. Jadi, mereka lebih appreciate lagi. Emang pada saat aku bikin deconstructed sop buntut atau apalah, orang-orang skeptis bilang, 'masa sop buntut digituin sih?'. Aku sih biarin aja, dengan cara ini orang will appreciate sop buntut more. Jadi tujuan aku, orang lebih appreciate oncom daripada trufflle misalnya. Makanya kita di sini, lo enggak suka jengkol, kita kasih jengkol. Tetapi, bentuknya enggak seperti biasanya. (asp)