Andrian Ishak, Pelopor Molecular Gastronomy di Indonesia
- Istimewa
Kalau di Indonesia sejak kapan?
Katanya, sih sejak Namaaz ada.
Kapan Anda pertama kali belajar memasak?
Waktu kecil sih, kelas 5 SD.
Berikutnya, kapan terjun ke dunia masak>>>
Kalau terjun ke dunia masak sendiri kapan?
Belum lama ya, bermula dari kelaparan. Sebenarnya, aku masak itu bukan untuk masak meng-create an art, tetapi aku masak emang needs. Pertama kali yang SD itu masak, aku pengin main gitar. Terus mau belajar gitar, terus yang jago itu tetangga. Kemudian, aku enggak direstuin main gitar. Kemudian, aku dekati dia minta ajari main gitar, tapi 'Gue gak bisa bayar apa-apa nih’. ‘Ya udah enggak apa-apa. Beliin aja martabak'. Oh ya sudah, terus enggak punya duit beli martabak, terus tanya ke tukang martabak, ‘Bang, bikinnya gimana?’ Ya sudah, akhirnya aku obrak-abrik rumah. Ada gula, tepung, telur, ya sudah bikin aja. Pas ditanya, ‘Serius ini martabaknya?' 'Iya coba aja.' Tepung, telur sudah, cokelat. Itu pertama masak. Martabaknya kemudian getting better.
Makanya, satu-satunya menu yang enggak aku apa-apain di Namaaz dan di mana pun itu adalah martabak. Karena, martabak is a sentimental dish yang aku enggak boleh apa-apain. Harus as it is aja. Biarin aja tinggal beli di depan. Jangan dirusak dengan konsep yang aneh. Itu terlalu precious aja sih.
Apa sih Inspirasi Anda dalam memasak menggunakan teknik ini?
Inspirasinya seninya. Maksudnya, masak itu sudah seni, cuma karena saya enggak ada background culinary. Tapi saya punya jiwa seni, akhirnya approach saya ya. 'Gue kalau masak ayam panggang, kalau bisa arangnya abunya juga bisa dimakan'. The idea of makan ayam dengan arang dan abu di atas piring, itu menarik. Itu menjadi seni yang menurut saya lebih elaborate. Enggak sekadar penataan, tetapi give you experience multisensory.
Belajarnya di mana dan berapa lama?
Belajar enggak dari mana-mana sih. Enggak dari pendidikan juga. Kebanyakan dari buku, terus eksperimen. Mulai dari 2006 sampai sekarang.