Catatan untuk Kereta Bandara Soetta
- ANTARA Foto/Hafidz Mubarak
Macet No! Harga Tiket?
Hari perdana, antusiasme masyarakat terhadap KA Soetta tak bisa dipungkiri. Namun ternyata, pelayanan kereta bandara belum sepenuhnya bisa memuaskan publik. Lagi-lagi yang perlu dicatat adalah angka harga tiket yang dipatok Rp70 ribu sebagai tarif resmi nantinya.
Penumpang berharap, akan ada penyesuaian untuk jarak tertentu. Misalnya, penumpang yang berangkat dari Batu Ceper tak perlu membayar harga yang sama dengan penumpang yang berangkat dari stasiun pemberangkatan awal.
Jarak Stasiun Batu Ceper ke Bandara Soetta sekitar 13,5 kilometer, sedangkan jarak seluruhnya yaitu 36,4 kilometer. Oleh karena itu, penumpang yang naik dari Stasiun Batu Ceper berharap akan dilakukan penyesuaian tarif kembali dan tidak rata dipatok Rp70 ribu per penumpang untuk jarak terjauh dan terdekat.
Dengan jarak yang relatif pendek, warga mengeluhkan Rp70 ribu sudah terbilang mahal. Belum lagi adanya potensi gangguan persinyalan kereta. Betul, KA memang tak akan menghadapi “hantu” kemacetan. Namun, bisa mengalami gangguan sinyal yang memperlambat perjalanan atau menyebabkan kereta tertahan untuk sementara waktu.
Gangguan perjalanan kereta diketahui bisa terjadi akibat sinyal seperti yang kadang kala dialami KRL dan Commuterline yang beroperasi di Jabodetabek.
“Kalau dari Stasiun Batu Ceper ke Bandara sih mahal juga kalau Rp70 ribu. Semoga penyesuaian tarif sesuai jarak,” kata Dika, salah seorang warga Tangerang yang sudah menjajal KA Bandara Soetta.
Kendala Bayar
Tak hanya menyoal tarif, para penumpang yang mengaku memang sengaja mencoba KA Bandara pada musim liburan kali ini mengungkapkan unek-unek lainnya. Indriyati, salah seorang penumpang mengeluhkan kesulitan membeli tiket karena diharuskan melakukan transaksi nontunai.
“Ya agak kesulitan pesan tiketnya ya, karena masih baru uji coba mungkin. Jadi sedikit lama proses pembeliannya,” kata Indriyati kepada VIVA saat ditemui di Stasiun Sudirman Baru, Jakarta.
Fasilitas tunggu yang diklaim nyaman oleh operator ternyata juga menjadi objek keluhan masyarakat. Fasilitas ruang tunggu dianggap masih belum memadai seperti belum cukup tersedianya jumlah tempat duduk.
Padahal tempat duduk menjadi fasilitas penting untuk menunggu kedatangan kereta.