Mohammad Hatta

Mohammad Hatta
Sumber :
  • s88884372.onlinehome.us

VIVA.co.id – Mohammad Hatta  lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang asli dari Minangkabau. Kakaknya Rafiah lahir 2 tahun sebelumnya. Sang ayah masih berada di garis keturunan ulama tarekat di Batuhampar (dekat Payakumbuh, Sumatera Barat). Sedangkan, sang Ibu merupakan keturunan dari keluarga Pedagang di Bukittinggi.

img_title Serunya Gelaran Festival Hatta-Sjharir di Banda Neira

Sang ayah meninggal dunia saat usianya 7 bulan. Kemudian, ibunya menikah lagi dengan Agus Haji Ning, seorang pedagang asal Palembang. Pernikahan mereka dikaruniai 4 orang anak perempuan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pria yang akrab disapa Bung Hatta ini pun mengenyam pendidikan pertama kali di Sekolah Dasar Melayu Fort de kock. Namun kemudian pindah ke Europeesche Lagere School (ELS), Padang (Kini SMA Negeri 1 Padang) dan melanjutkan ke Meer Uirgebreid Lagere School (MULO), Padang hingga tahun 1919. Sedangkan, sekolah tingginya sendiri ia lanjutkan ke Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia.

img_title 7 Fakta Penting Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Selain menyerap segala ilmu pengetahuan di pendidikan formal, Hatta juga mempelajari ilmu-ilmu Agama, berhubung keluarganya merupakan keluarga yang taat Agama. Ia pernah belajar bersama Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.

Kiprahnya di dunia politik diawali dengan masuknya ia ke organisasi Jong Sumatranen Bond region Padang dengan jabatan sebagai bendahara pada tahun 1916. Pengetahuanya di bidang politik pun bertambah pesat karena rajin menghadiri berbagai pertemuan.

img_title Protes Cucu Bung Hatta, Tak Terima Figur Proklamator Dipolitisasi

Pada tahun 1921, Hatta hijrah ke Belanda untuk melanjutkan studinya di Handels Hogeschool (sekarang namanya Universitas Erasmus Rotterdam). Ia bergabung dengan perkumpulan pelajar tanah air, Indische Vereeniging. Pada awalnya Indische Vereeniging hanyalah komunitas biasa. Tapi, segalanya berubah setelah pentolan Indische Partij yaitu Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu bergabung ke dalam komunitas tersebut. Geliat politik pun semakin mencuat ke permukaan. Komunitas itu pun memiliki tujuan baru yaitu, mempersiapkan kemerdekan Indonesia. Namanya pun berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Pada tahun 1922, Hatta kembali menduduki posisi bendahara di Perhimpunan Indonesia dan 3 tahun kemudian Ia terpilih sebagai ketua. Hatta juga sempat mengatur majalah Hindia Putera yang berganti nama menjadi Indonesia Merdeka di tahun 1924.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut