Selamat Jalan Sahabatku Deniro Sutra S. Simanjuntak
- U-Report
Hari terus berganti, jam terus berputar menurut arahnya yang tak pernah lekang. Waktu pun menunjukkan bahwa hari ini adalah saatnya aku menunjukkan prestasiku melalui nilai-nilaiku nanti. Aku merasa jika aku harus fokus untuk ulangan semester akhir di kelas X ini, agar aku dapat naik mke kelas XI. Ketika saatnya tiba. “Yes, nilaiku cukup baik. Walaupun nilaiku tidak seluruhnya mendapat angka 8 dan 9,” gumamku saat itu. Tiba-tiba temanku David menghampiri, “Weiiss…naik kelas gak kamu, Ros?” tanyanya. “Ya, pastilah!” jawabku dengan senyum yang terkesan sangar. David pun berlalu dengan teman-teman yang mengikutinya dari belakang. Terlihat olehku sosok lelaki yang bernama Sutra itu senyum kepadaku, dan aku pun membalas senyuman itu.
Seusai kenaikan kelas, tentu aku dan teman-teman tidak lagi berada di kelas yang sama. Karena sudah pasti kami akan melanjutkan ke kelas jurusan yang memang sudah ditentukan menurut kemampuan kami. Hasilnya aku berada di kelas XI-IPS 3. Ini adalah hal baru menurutku karena dalam ruangan yang baru ini aku belum mengenal semuanya. Terkecuali Hanson, Widy, Ella, Dwi, dan lelaki cuek itu. Meskipun kami telah berbeda kelas, namun tak sedikitpun mengurangi rasa pertemanan aku dan teman-temanku di kelas terdahulu yang pernah kami jalani selama satu semester di kelas X. Belum lagi canda tawa yang kami buat ketika dalam kegiatan keagamaan.
Pagi yang cerah. Aku duduk di depan kelas seperti biasanya. Namun, aku masih saja diam membisu. Apa sebenarnya yang kutunggu pagi ini? Ya, siapa lagi jika bukan temanku yang satu itu, Sutra. Ketika dia lewat di depanku, tiba-tiba hati ini ingin menyapanya seperti biasa. “Sutra! Santai aja tuh muka, gak usah sok ganteng,” sapaku. “Oh, iya Bang,” jawabnya dengan senyuman sambil menatap ke arahku.
Begitulah kejadian pagi itu. Abang adalah sebutan darinya untukku. Mungkin karena aku yang terlalu tomboi atau semacamnya. Sutra adalah sosok lelaki yang baik, sopan, dan tidak gampang untuk mengambil hati setiap kata yang keluar dari perkataan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia juga lelaki yang sangat rapi. Bahkan dia tak pernah berpakaian lusuh. Sutra juga sangat akrab dengan guru-guru maupun teman sebayanya, termasuk aku.