Selamat Jalan Sahabatku Deniro Sutra S. Simanjuntak

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Tak lama bel panjang berbunyi, pertanda jika kami harus segera berkumpul di lapangan untuk mendengarkan informasi yang akan disampaikan oleh kepala sekolah kami. Saat itu aku tahu persis apa yang akan disampaikan oleh kepala sekolahku. Sudah pasti tentang kepergian teman ku. Tak peduli tempat aku berada, aku mengeluarkan air mataku sejadi-jadinya karena aku tak sanggup untuk membendung rasa itu. Aku masih belum terbangun dari mimpi burukku.

img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional

Ketika itu, kami semua kelas XI akan pergi ke rumah Almarhum untuk memberikan doa. Aku menunggu di kelas, masih dengan perasaan tak percaya. Aku terduduk lemas ketika aku membayangkan kata-kata jika temanku Sutra telah meninggal. Yang menjadi penyesalanku adalah selama dia masih hidup dan bermain denganku, aku tak pernah meminta maaf kepadanya, sekalipun itu dalam canda tawa. Lalu kulihat Yuendi yang terduduk diam, membisu di belakangku. Melihat hal itu,aku pun turut dengan teman-teman untuk menenangkannya. Mereka semua berusaha untuk membuat aku dan Yuendi agar tidak terlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Cukup lama kami berdua berdiam diri, tak peduli apapun yang dikatakan oleh teman-temanku pada saat itu. Tak sadar jika tanganku menggenggam tangannya karena tak mampu aku menahan perasan sedihku. Tak peduli walaupun teman-teman sekelas melihatku. Tiba-tiba aku merasa tenang ketika aku menggenggam tangannya, aku merasakan kesedihanku yang sedikit demi sedikit berkurang. Aku juga merasakan kesedihan yang dia rasakan cukup mendalam,dan aku pun berusaha bangkit dari rasa penyesalan itu. Aku berusaha untuk menenangkannya. Aku membujuknya, aku berusaha untuk membuatnya bangkit dari rasa sedih itu. Dan seketika itu, dia pun bangkit. Teman-temanku yang lain juga tak lupa untuk mendorong kami agar kami tidak larut bersama-sama dalam kesedihan itu.

img_title Driver Ojek Online Sedekah Jasa Antar Anak Yatim ke Sekolah

“Sudah Yuen, jangan menangis lagi. Kalau kamu nangis aku juga mau nangis rasanya,” ucapku kepadanya. “Aku kepikiran terus,” jawabnya dengan senyum yang sangat jelas terlihat di bibirnya. “Ya, tidak usah terlalu dipikirkan, kalau kamu begini terus, aku jadi mau nangis lagi.” Dia pun hanya tersenyum dan saat itu dia tak lagi menangis. Dia mulai bercerita sedikit demi sedikit kejadian saat itu, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut teman-teman sekelas.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut