Harus Berjalan 10 Kilometer Hanya untuk Makan
VIVA.co.id – Namanya Sumarmo, orang memanggilnya Mbah Marmo. Dipanggil 'mbah', karena usianya kelewat tua, yaitu 81 tahun. Dia hidup sebatang kara karena anak istrinya telah mendahului tiada. Satu-satunya saudara yang tertinggal adalah Sumijah, 65 tahun, adik ipar perempuannya.
Lelaki yang kulitnya telah keriput semua ini merupakan warga Desa Baritocabak, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dia tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana dan nyaris tanpa perabot apapun.
Ketika usianya masih 50 tahun, Mbah Marmo masih bekerja sebagai buruh tani. Upahnya sekadar untuk mencukupi makan saja. Seiring usianya kian uzur, dia tak mampu bekerja lagi. “Angkat pacul saja sudah tak kuat, bagaimana bisa kerja?” tuturnya.
Pernah suatu waktu Mbah Marmo memaksakan diri bekerja, karena tak ingin kelaparan dan malu disebut pemalas oleh orang lain. Akibatnya fatal, tubuhnya menggigil panas dingin dan demam. Sepekan baru sembuh, dan selama itu ditolong oleh warga sekitarnya.
Sejak itu dia putuskan tak bekerja lagi daripada jatuh sakit, membuat repot orang sekampung. Lalu, bagaimana Mbah Marmo bertahan hidup agar sehari-hari tak kelaparan? “Saya minta makan Mijah (Sumijah),” ucapnya singkat.
Perempuan yang disebut Mijah, adalah adik almarhumah istri Mbah Marmo. Sebelum menutup mata, istrinya itu terbata-bata titip pada Mijah adiknya. Sepeninggalnya agar sudi mengurusi Mbah Marmo, suaminya.
Mbah Marmo punya satu anak lelaki, tapi meninggal saat umurnya 52 tahun. Menantunya, yaitu istri anak lelaki Mbah Marmo, karena tak punya keturunan, dia lalu pulang ke keluarganya. Tak lama, istri Mbah Marmo juga tiada. Konon karena sedih, anak satu-satunya mendahuluinya.
Ditinggal selamanya oleh anak-istri, Mbah Marmo amat sedih. Pernah berkali-kali minta pada Tuhan agar hidupnya cepat diakhiri dan bisa berkumpul dengan anak-istri di alam barzah. Entah mengapa permintaan itu tak dikabulkan. Mbah Marmo masih terus hidup sampai kini.
Mbah Marmo berpasrah pada kehendak Yang di Atas, jika memang harus berlama-lama di dunia sebatang kara. Demikian juga dengan hidupnya. Lebih dari 30 tahun terakhir terpaksa bergantung pada belas kasih Mijah, adik iparnya.