Kisah Sutijah Penunggu Kuil Dewa Penjaga Pintu Langit
Janda jebolan kelas 5 SD yang fasih baca tulis ini, kini merasa lebih tenang bekerja setelah Suharno, 52 tahun, satu dari dua menantunya ikut membantu bekerja di kuil. “Tiap akhir bulan, Suharno pulang ke Desa Beringin menengok keluarga,” ucap Bu Sutijah. Selama puluhan tahun menjadi juru kunci Kelenteng Budi Luhur Sakti Penenang Samodra, satu kali Bu Sutijah dapat pengalaman amat dahsyat. Bermula beberapa bulan lalu, kuil yang ditunggunya nyaris rata dengan tanah akibat kebakaran.
Dikisahkannya, saat itu menjelang tengah malam. Semua pintu kuil telah ditutup dan digembok kuat. Tak lama terdengar suara gemeretak bercampur bau sangit. Lalu tampak asap hitam mengepul, keluar dari sela-sela bangunan klenteng senilai puluhan milyar itu. Waktu diintip, satu dari dua lilin setinggi satu meter, di kanan kiri altar utama meleleh. Api merembet ke meja altar. Membakar habis semua benda di atas altar. Zirah jubah Kongco ikut terbakar. Tapi aneh, tubuh arca Kongco sedikit pun tidak hangus.
Bu Sutijah dan Suharno panik, berusaha membuka pintu klenteng. Karena gugup, usahanya gagal. Beruntung api padam sendiri, tapi altar dan ruang utama habis dimakan api. Sejak itu, setiap malam hari Bu Sutijah mematikan seluruh api di altar-altar yang ada dalam kuil.
Bu Sutijah sendiri tidak tahu apakah pekerjaan biokong ini akan dilakoninya hingga akhir hayat, seperti terjadi pada mendiang suaminya. “Biar Tuhan yang menentukan,” ucap janda pemeluk Budha tapi berkeinginan berganti keyakinan sebelum dia menutup mata nanti. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati)