Semalam Tanpa Azan di Pulau Kenawa
- U-Report
Akhirnya Mbak Jule memberi ide untuk tidur di dermaga. Apakah terdengar merana? Di dermaga Kenawa kami menggelar jaket sebagai alas salat isya dan tarawih. Menyaksikan berkas sore yang kian memudar di balik Rinjani, dan menyusul titik-titik cahaya di pelabuhan yang mulai dinyalakan. Sesekali waspada mendengar deru perahu kapal nelayan yang lewat mencari ikan di malam hari.
Di atas dermaga saya dan Mbak Jule bersujud ke arah barat, mengira-ngira arah kiblat yang pas. Menikmati setiap takbir sambil terus merapal doa agar selalu dilindungi Allah dan dijauhkan dari marabahaya, baik dari langit maupun di bumi. Setiap rakaat diiringi deburan ombak, selain sunyi. Beratap langit dengan saputan awan dan gemerlip bintang. Menghabiskan salah satu malam di bulan Ramadan tanpa suara azan.
Kami mulai menghabiskan jajanan dan melepas lelah berbaring menyamankan diri. Meluruskan punggung merasakan angin yang tertahan jaket. Mencoba menggapai dunia kapuk rasa kayu dengan air beriak di bawahnya. Malam yang semakin larut. Meski sudah melarikan diri dengan berbaring di atas dermaga berharap jauh dari pasukan nyamuk, sepertinya mereka tak menyerah. Sesekali saya harus menghalau dengungan nyaring nyamuk-nyamuk itu.
Desau angin, alunan ombak, dan dengung nyamuk membuat saya antara terjaga dan tidak terjaga. Kemudian di suatu detik saya merasa hilang, jatuh lelap tertidur. Hingga sekitar jam 3 pagi, udara semakin dingin hingga terasa titik air di wajah. Hujan! Dengan tergesa saya dan Mbak Jule bangun dan membereskan barang-barang, ngibrit menuju saung terdekat.
Kami mengais sisa kelelapan tidur yang sesaat tadi. Oh... hujan. Besoknya kami terbangun karena kehujanan. Sahur dengan roti, mandi di laut yang airnya sebersih kaca, naik ke bukit berbatu yang batunya terpecah belah. Kemudian kami baru diberi tahu oleh Pak Cau bahwa tempat kami tadi main air ternyata banyak ularnya! (Tulisan ini dikirim oleh zharnd)