Semalam Tanpa Azan di Pulau Kenawa

Pemandangan Kenawa dari menara air.
Sumber :
  • U-Report

Tak lama kemudian, di depan sana, semakin dekat terlihat gerbang selamat datang di Pelabuhan Kayangan yang menyambut kami dalam diam. Untuk menyeberang dengan motor terkena biaya Rp 50.000, dan harga bervariasi tergantung jenis kapasitas mesin motor. Setelah membayar, kami mengantre menunggu giliran masuk ke dalam anjungan kapal.

img_title Kisah Penjual Cilok dan Rumahnya yang Nyaris Hancur

Aku terakhir kali menyeberang laut adalah ketika Januari awal tahun ini menuju Lampung bersama dengan Mbak Jule juga. Mengumpulkan memori lebih jauh lagi. Lompat ke waktu lampau, zaman ketika umi dan abi dinas di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Kapal dan laut. Jawa, Sulawesi, Lampung, Lombok, Sumbawa. Itulah Indonesia yang disebut negara kepulauan dengan belasan ribu pulaunya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kapal menderu meninggalkan Pelabuhan Kayangan. Seinci demi seinci kapal dengan muatan truk-truk besar di bagian bawah menuju ke sana. Sambil berpikir mengenai otak manusia. Sesederhana menerima kapal kayu nelayan dapat membawanya mencari ikan di laut tanpa tenggelam. Kemudian beberapa truk besar sekian ton dapat terangkut di atas kapal. Teknologi. Terberkahilah bagi yang memanfaatkan kemampuan otak, mengeksplorasi ilmu yang terserak di bumi luas ini.

img_title Cinta dan Cemburu

Mengamati penumpang lain dalam kapal. Beberapa bule tampak asyik mengamati perjalanan dengan travel bag besar di samping mereka. Apakah kami memiliki tujuan yang sama? Seorang bapak-bapak kemudian bernyanyi sebuah lagu candaan dengan lantang. Beberapa penumpang tertawa. Ada yang memalingkan wajah seperti terganggu dengan suara yang tidak bisa dibilang indah tersebut. Ironi mencari nafkah.

Bosan duduk di kursi, saya pun bergeser duduk di lantai dekat teralis. Sedikit-sedikit dataran Sumbawa mulai terlihat. Pulau tempat beberapa teman kuliah berasal. Mempunyai teman berasal dari Bima yang dalam pikiran saya, ah entah di mana tempat itu. Saya tidak memiliki bayangan sejauh mana Pulau Sumbawa apalagi Kota Bima. Barulah saat ini saya berpikir betapa jauh perjalanan darat mereka untuk menuntut ilmu di Malang.

img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional

Setelah dua jam berlayar dan satu jam menunggu antre sandar di pelabuhan Poto Tano, kami sampai di daratan Sumbawa. Kalau diukur, sebenarnya lebih jauh jarak perjalanan ke Lampung. Bahkan bila dihitung singkatnya waktu karena kami menaiki pesawat dari Surabaya saat menuju Lombok. Namun, secara suasana hati, merasakan degupan jantung yang lebih. Tak sampai lima menit kami sudah sampai di gerbang dermaga Poto Tano yang berseberangan dengan Kantor Jembatan Timbang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut