Semalam Tanpa Azan di Pulau Kenawa
- U-Report
Pak Cau meninggalkan kami di Pulau Kenawa. Saatnya menikmati 'pulau pribadi'. Sensasi yang belum pernah saya rasakan. Saya menaiki sebuah menara air dan dari sini, sepanjang mata memandang berkeliling di setiap penjurunya terus mengundang decak kagum. Mengamati pinggiran pelabuhan Poto Tano yang setiap beberapa jam sekali disandari kapal. Pesisir Kenawa dengan deretan saung tempat istirahat untuk para pelancong. Ada satu warung dan toilet umum, namun tidak beroperasi karena bulan Ramadan.
Sore syahdu dengan laut yang membiru. Terdapat beberapa pulau di sekitaran pelabuhan Poto Tano. Namun, Pulau Kenawa memiliki keindahan tersendiri dengan ilalang pendek setinggi lutut yang membentuk gumpalan dengan bukit kecil di salah satu ujungnya. Tanpa pohon, Pulau Kenawa yang mulai menguning menyambut musim kemarau. Dikelilingi pasir putih dan terumbu karang yang elok, jangan lewatkan tanpa menyelam!
Saat kami menuju bukit, seekor kucing terus mengikuti kami. Kami berhenti, dia berhenti. Kami jalan, dia ikut jalan. Tidak tahu darimana asalnya kucing ini. Mungkin milik pemilik warung, kemudian tertinggal di sini sendirian. Hingga malam dia menemani kami. Saya beri nama dia Ika, si kucing Kenawa. Namun, kemudian keesokkan harinya dia tidak lagi bersama kami. Saya dan Mbak Jule tidak membahas masalah ini sampai perjalanan berakhir. Saya berpikir, mungkin dia semacam 'teman'.
Sambil menunggu azan magrib, kami menghabiskan waktu dengan tilawah dan berzikir. Namun, karena tak kunjung mendengar suara azan, berbekal informasi waktu magrib dari Pak Cau, saya berulang kali melirik jam tangan menikmati tiap menit seiring menggelapnya langit. Desau angin menjadi pengantar buka puasa di tanah saudara, Pulau Kenawa. Sumber energi berupa roti dan air mineral membawa kami turun ke bawah menuju tempat barang bawaan.
Terdapat satu saung yang cukup luas dan bersih untuk salat dan beristirahat. Tapi tidak lama kemudian setelah salat magrib, di bawah atap jerami yang gelap, suara-suara mengerikan mulai berdengung bersahut-sahutan. Nyamuk. Entah karena sangat sepi, saya juga tidak bisa memperkirakan sebesar apa nyamuknya. Dengung nyamuk tersebut terdengar mengancam di telinga saya meski sudah mengoleskan lotion anti nyamuk di tangan dan wajah.