Jejak Seorang Anak Asongan Meraih Sukses
Johny saat itu senang bukan main, karena ia telah berhasil masuk ke akademi pelayaran tanpa uang sogokan sepeserpun. Mendengar kabar tersebut, sang ayah sangat senang dan mengucapkan terima kasih kepada penguji-penguji yang ada , dan Johny pun melanjutkan kuliahnya di Akademi Ilmu Pelayaran.
Hari pertama di Akademi Ilmu Pelayaran, dengan senang Johny merapikan segala sesuatunya. Peraturan akademik tersebut sangat ketat. Tidak boleh ada debu sekalipun di pakaian yang dikenakan. Saat berangkat menaiki kopaja di depan rumahnya dan kopaja tersebut belum berangkat, ada preman kampung yang sedang mabuk masuk dan tidak sengaja menginjak sepatu Johny yang telah ia bersihkan dengan susah payah. Lalu preman tersebut dipukul dan diseret olehnya keluar dari kopaja dan turun di depan rumahnya.
Warga sempat memanggil sang ayah yang sedang di rumah dan turut kesal karena anaknya sedang berkelahi dengan preman. Dengan membawa golok di tangan, sang ayah datang dengan marah ke preman tersebut. Lalu menghampiri preman di depan rumahnya yang saat itu sudah dalam kondisi babak belur tertidur lemas di atas tanah.
Johny pun melanjutkan perjalanannya menuju kampus dan membersihkan sepatunya di depan kampus. Masuk Akademi Ilmu Palayaran menjadi perjalanan belajar terakhir sang anak yang dahulunya adalah pedagang asongan ini. Ia cukup disegani saat pulang dari kampus di daerah rumahnya. Dan ia merasa bangga dengan pakaian yang dikenakannya.
Yang dahulu diremehkan di antara saudara-saudaranya, kini Johny disegani dan sering sekali didatangi oleh saudara-saudaranya. Lulus dari Akademi Ilmu Pelayaran, Johny sang anak asongan yang kini menjadi nakhoda kapal sudah siap meninggalkan keluarganya untuk pergi berlayar dengan pangkat nakhoda yang merupakan pangkat kapten kapal laut. Ia membawa kapal Rimba Segara Line ke luar negeri. Nakhoda adalah seorang pemimpin kapal dengan istilah kapten yaitu perwira laut yang memegang komando tertinggi di atas kapal niaga.
Saat ini, meskipun sudah tidak berlayar lagi, ia tetap menjadi nakhoda atau kapten di kapal tanker yang tugasnya menjual perminyakan di lautan. Hidupnya telah bahagia dengan rumah sederhana dengan seorang istri dan kedua anaknya.