Sang Penakluk Takdir yang Tangguh
VIVA.co.id – Beban kehidupan yang berat selalu lebih diidentikkan dengan sosok laki-laki. Benarkah demikian? Padahal banyak perempuan yang berjuang untuk sebuah kehidupan yang layak. Kasruni salah satunya.
Kasruni adalah wanita asli Jepara yang kini usianya sudah menginjak 124 tahun. Sepanjang hidupnya beliau seakan terus-menerus dicekoki pil-pil pahit yang dengan terpaksa harus ditelan bulat-bulat tanpa seteguk air. Hebatnya, sosok wanita ini justru menjadi tangguh di usianya yang senja. Entah bermodalkan apa, sehingga Kasruni masih semangat akan kehidupan yang ia jalani.
Cobaan pertama dimulai ketika Kasruni bertanya-tanya apa itu arti dari keadilan. Tahun berganti tahun, Kasruni menikah selama 97 tahun lamanya. Namun ironisnya, beliau belum merasakan sebutan “mama” yang terucap dari mulut sang anak sebagai pelengkap perkawinan.
Pahit getirnya kehidupan sudah ia lalui. Harapan untuk dapat mempunyai keluarga yang lengkap, hanyalah angan. “Ndo, mangan Ndo. Lauk e wes siap” (Nak, makan Nak. Lauknya sudah siap). Iya, setidaknya Tuhan memberikan mimpi yang gratis. Tidak ada salahnya memang untuk berangan-angan akan sebuah kehidupan yang indah. Namun, kadang dia sadar kalau bayang-bayang mengurus, merawat, dan mencintai sang buah hati hanyalah angan-angan semata. Karena mimpi pun ternyata mempunyai batas letih.
Belum lagi kala itu sang suami mengajukan agar Kasruni dimadu. Menekan terus menekan lagi, berharap Kasruni mengiyakan tawarannya. “Persetan dengan keadilan, lebih baik aku pergi daripada mesti dimadu!” ujar pemberontakan Kasruni pada waktu itu. Keadaan seperti ini merupakan mimpi buruk yang teramat mencekik. Hingga sulit rasanya untuk menelan ludah. Matapun memanas dan nafaspun seakan alot untuk ditarik dan berat untuk dihembuskan. Tolong jangan tambahkan lagi beban derita ini dengan permintaan macam itu.
“Suami macam apa kamu. Jangan salahkan aku karena tidak mempunyai anak bukanlah pintaku kepada Tuhan. Jangan salahkan keadaan ini! Wanita mana yang menginginkan cobaan seperti ini? Tidak ada!” jeritan penuh isak tangis Kasruni memecahkan suasana. Singkat, namun cukup menjadi bentuk penolakan yang tegas akan permintaan gila suaminya.