Bakul yang Setia Menemani Si Mbah di Usia Senja
VIVA.co.id – Setiap manusia pasti selalu mendambakan hidup bercukupan dan sejahtera. Namun, terkadang kenyataan berkata lain dan tidak sesuai dengan harapan yang kita inginkan. Karena Tuhan sudah mengatur jalan hidup masing masing hamba-Nya.
Wajahnya selalu tampak gembira, tak pernah terlihat perasaan sedih. Tak pernah dia meminta belas kasihan kepada orang lain. Hari-harinya selalu dijalaninya dengan penuh sukacita. Tak pernah mengeluh ataupun putus asa. Dia menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Meskipun banyak cibiran bahwa pekerjaannya itu sangat rendah dan tidak pantas dilakukan oleh wanita renta seperti beliau.
Dialah Mbah Ngatiyem. Sosok Kartini hebat yang telah berusia lanjut. Nenek berusia 74 tahun ini masih semangat menjalani aktivitas. Kondisi tubuh yang mulai melemah karena usia, wajah keriput, dan terlihat raut lelah terpancar di wajahnya. Namun, itu semua tak menghalangi niat dia untuk bekerja di usianya yang sudah tak muda lagi.
Mbah Ngatiyem adalah penjual pecel yang mangkal di sekitar Jalan Bakti 1, Cijantung, Jakarta Timur. Berjualan setiap hari di malam hari sungguh menyita tenaga. Apalagi dengan kondisi tubuhnya yang mulai melemah termakan usia.
Hampir 20 tahun lamanya dia berdagang pecel sayur dan gorengan. Bakulnya selalu berisi sayuran hijau untuk pecel dan gorengan seperti tahu, tempe, bakwan sebagai pelengkap pecel. “Bakul ini sudah menjadi saksi bisu saya bagaimana susahnya mencari nafkah di ibu kota,” ujar Ngatiyem.
Waktu menunjukkan pukul 20:00. Dia berangkat menuju tempat ia biasa berdagang. Tapi tiba tiba terdengar suara petir dengan kilatan cahayanya. Tak lama kemudian hujan deras pun turun. Tapi itu semua tak menghalangi niatnya untuk menjajaki dagangan pecel yang dia bawa. Bermodalkan payung serta jaket tipis yang melekat di tubuh rentanya. Mbah pun berangkat bersama bakul usangnya yang telah lama menemani. Tidak ketinggalan juga ada kerupuk mie dan opak singkong di dalam bakul bawaannya. ”Dulu saya berjualan berpindah-pindah. Sekalian muter-muter gitu. Tapi sekarang saya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan kaki jauh. Maklum sudah tua,” ujar Ngatiyem dengan nada sedikit tertawa.