Kisah Pilu di Gunung Prau
VIVA.co.id – Awalnya, saya menganggap pendakian kali ini cukup biasa saja. Tetapi segala persiapan dalam pendakian ini tetaplah menjadi prioritas yang utama. Bisa dibilang persiapan dalam pendakian ini sangat istimewa. Mengingat peserta pendakian ini berjumlah dua puluh satu anak manusia yang ingin mencari pengalaman, suasana, dan warna yang baru dalam hidup. Karena jika mengutip dari Sir Edmun Hillary, “Life's a bit like mountaineering, never look down”.
Pendakian kali ini kami putuskan untuk melewati jalur Patak Banteng. Jalur yang terkenal dengan kesingkatan estimasi waktu untuk mencapai puncaknya, tetapi jalur yang cukup berat bagi seorang pendaki pemula. Setiba di kawasan Patak Banteng, guyuran hujan menyambut dengan hangat. Untungnya kami bersinggah di kediaman Rizi, yang menjadi maskot Anak Dieng itu.
Karena pendakian ini berjumlah dua puluh satu orang, maka diputuskanlah pembagian kerja dan kelompok untuk menghemat waktu dan tenaga. Kebetulan saya diberi kehormatan menjadi tim advance. Yang bertugas untuk mendirikan shelter buatan di Pos III yang dapat berfungsi sebagai tempat persinggahan untuk makan siang dan beristirahat sejenak. Dan juga bertugas mendirikan tenda di puncak.
Bagi tim advance, memulai pendakian terlebih dahulu menjadi prioritas utama. Karena tim ini akan membuat fasilitas istirahat bagi peserta di atas sana. Jaraknya hanya berkisar satu jam dari tim yang lain. Selama perjalanan, rintikan hujan masih setia menemani hingga Pos Satu. Tak ada yang istimewa selama melewati jalur selepas Pos Satu sampai di Pos Dua.
Jalur yang didominasi oleh tanah membuat saya tertatih untuk sampai ke Pos Tiga. Sesampai di Pos Tiga, saya pun langsung menjalankan tugas pertama sebagai tim advance. Yaitu mendirikan shelter buatan. Asyik bersandar di batang pohon sambil melemaskan otot-otot setelah mendirikan shelter, tak lama kawan-kawan dari tim yang lainnya sudah sampai di Pos Tiga. Lekas saya pun terpaksa untuk harus melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Jalur yang memiliki kemiringan berkisar 75 derajat, jalur yang membuat dengkul kaki dengan dada saling bersapaan, jalur yang paling melelahkan dari jalur yang ada di jalur Patak Banteng. Ya, jalur dari Pos Tiga menuju puncak. Dengan kondisi jalur yang basah, membuat nafas saya semakin tertatih tak karuan untuk sampai di puncak.