Ikhtiar Sang Kartini dari Kampung Kober Bekasi
Sampai akhirnya, sekitar Mei 2016 Allah menunjukkan jalan-Nya yang mengantar Oom kepada Rumah Yatim. Marini tak dapat menahan rasa gembira sekaligus haru saat mengisahkan pertemuan mereka. Padahal, kejadian itu hampir setahun lamanya.
“Ini memang pertemuan yang tidak disangka-sangka. Allah sudah menakdirkan kami bertemu di saat seperti ini. Waktu itu kami masih mencari anak asuh yatim, lalu sudah survei ke sana ke mari dan mengalami kesulitan karena nyaris nihil di sekitar kami. Singkat cerita, tiba-tiba Bu Oom datang tanpa sengaja membantu menunjukkan calon anak asuh yatim,” ungkap Marini terharu.
Ia meyakini kalau ini sudah menjadi petunjuk atas karunia Allah. Ketika ia bersama tim lainnya hampir menyerah, tiba-tiba ada pertolongan itu menghampiri dengan sendirinya. Sejak saat itu, lanjut Marini, hubungan baik bersama Bu Oom kian tumbuh layaknya keluarga. Sebagai warga asli, kehadirannya menjadi perpanjangan tangan Rumah Yatim kepada warga.
Rumah Yatim mengangkatnya menjadi koordinator setempat. Dan seperti keluarga, Rumah Yatim mengenal kondisi Oom dan keluarganya. Berkontribusi terhadap Rumah Yatim dalam berbagai acara dan kegiatan, ia mendapatkan apresiasi wujud kasih sayang Rumah Yatim. Perjuangan Oom layaknya seorang Kartini.
“Kami bersyukur Allah mempertemukan kami dan Bu Oom. Ia aktif sekali membantu setiap kali ada acara donatur atau kegiatan lainnya. Walau belum banyak, dari kami memberikan apresiasi khusus koordinator, minimal dapat meringankan kebutuhannya sehari-hari,” imbuhnya.
Menurut Marini, Oom adalah koordinator paling rajin dan aktif. Rumah Yatim Bekasi menunjuk tiga orang, termasuk dirinya dan RT setempat. Dalam seminggu, Oom ke asrama sekali sampai tiga kali untuk ikut membantu kalau ada acara atau kegiatan lainnya. Di luar itu, ia aktif berkegiatan di masjid meski tak sesering ke asrama.
Boleh dibilang, asrama jadi rumah kedua bagi Oom dan Nisa. Ia merasa ini panggilan hati karena ia ikut merasakan bahwa putrinya sendiri adalah seorang yatim. Karena itulah kehadirannya ingin ia berikan untuk membantu Rumah Yatim dan anak asuhnya.
Putri bungsunya, Alfanisa yang kini duduk di kelas 2 SMP berada dalam naungan Rumah Yatim. Ia merasa tinggal bersama sang ibu adalah terbaik untuknya. Meskipun fisik sang ibu masih sehat dan kuat, Nisa merasa harus tetap membantu dan menemani ibunya.