Aku Terjepit antara Pulau Ternate dan Sulawesi

Ilustrasi pria pergi jauh meninggalkan kampung halaman.
Sumber :
  • PIxabay/Hermann

VIVA.co.id – Ternate adalah kota yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan yang penuh liku-liku perjalanan hidup. Di Ternate ada begitu banyak catatan pahit, tapi ada juga manis-manisnya. Karena mungkin saya bukan orang yang serba kelebihan materi.

img_title Diadaptasi dari Novel, Serial Sabtu Bersama Bapak Bakal Tayang di 240 Negara

Saya selesaikan SD, SMP, dan SMA di salah satu sekolah ternama di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Dengan kehidupan yang serba kekurangan, tetapi semangat orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berstandar harus terwujud. Pada satu saat, setelah saya tamat SMA, saya pun sudah mulai berpikir bahwa mana mungkin saya dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada saat itu saya berpikir kembali, mana mungkin saya bisa lanjut sekolah dengan kondisi orang tua yang sedang sakit-sakitan. Saya adalah keluarga termiskin urutan kedua di kampung. Namun dengan kemiskinan itu, bukan berarti orang tua saya memberhentikan keinginan saya untuk kuliah keluar kota.

img_title Pergilah Dinda Cintaku

Jarak Kota Ternate dan Sulawesi bukan ditempuh dalam satu atau dua jam perjalanan. Namun, berhari-hari baru bisa sampai di Pulau Sulawesi. Dan sudah tentu harus melewati pegunungan lautan yang sangat jauh daratannya. Saya berkata kepada orang tua, “Pak, tidak usahlah saya lanjut kuliah kalau nantinya kalian akan kesulitan. Karena kuliah butuh waktu yang lama Pak,” ujar saya kala itu.

Namun, mereka menjawab, “Kamu harus kuliah. Kamu harus jadi orang yang berguna untuk nusa dan bangsa. Cukup hanya bapak dan mama yang merasakan kepahitan kehidupan. Tapi kamu harus sekolah, Nak!” katanya. Kemudian orang tua saya meminta saya untuk mendengarkan sebuah cerita, dan saya persilakan mereka untuk menceritakannya. Orang tua saya pun bercerita tentang kisah kerang mutiara.

img_title Tanggung Jawab dan Rekonsiliasi Masyarakat Lumban Dolok

Pada saat mencari makan, kerang mutiara akan membuka mulutnya dan kemudian menutup mulutnya lagi. Pada suatu saat, kerang mutiara sedang membuka mulutnya, dan kemudian masuklah pasir ke dalamnya. Lalu kerang mutiara itu berteriak, mengeluh sakit kepada ibunya sambil mengeluarkan air mata. Ibunya hanya meminta anaknya untuk bersabar. dan jangan membalas rasa sakit itu dengan kejahatan. Anak kerang mutiara pun mengikuti perkataan sang ibu sambil terus mengeluarkan air mata untuk membungkus pasir tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut