Indonesia Membutuhkan Kebijakan yang Berkelanjutan

Penulis (sebelah kiri) saat menghadiri seminar Fridrich Naumann Stiftung di Gummersbach, Jerman.
Penulis (sebelah kiri) saat menghadiri seminar Fridrich Naumann Stiftung di Gummersbach, Jerman.
Sumber :

Pada tahun 2013, kekurangan air bersih telah menyebabkan orang meninggal di dunia sebanyak 1,24 juta jiwa atau dua persen secara global. Namun, pada tahun yang sama, polusi udara telah menyebabkan orang meninggal sebanyak 5,52 juta jiwa atau sekitar sepuluh persen secara global. Ironisnya, lebih dari 3,5 miliar, separuh dari penduduk dunia tinggal di negara-negara dengan kualitas udara yang sangat buruk.

Fakta lain menunjukkan, bahwa negara-negara berkembang dan penghasil minyak merupakan negara dengan kualitas udara terburuk. Ada indikasi yang korelasional antara negara demokratis dan pencemaran lingkungan. Data menunjukkan bahwa negara-negara yang tidak demokratis, problem lingkungan, dan pencemaran udara semakin banyak dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara yang menerapkan sistem demokratis.

Penulis saat menghadiri seminar Fridrich Naumann Stiftung di Gummersbach, JermanPersoalan polusi udara atau buruknya kualitas udara, sebenarnya tidak hanya terjadi di negara-negara penghasil minyak, namun juga terjadi di Indonesia. Penggunaan kendaraan bermotor, kebakaran hutan, kemacetan, dan lain lain telah menyebabkan meningkatnya polusi dan kerugian yang mencapai ratusan triliun di Indonesia.

Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Universitas Indonesia, polusi udara telah menyebabkan masalah saluran pernafasan bagi hampir 60 persen warga Jakarta. Polusi udara juga menyebabkan jantung koroner dan pneumonia. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bahkan pernah merilis data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Jakarta.

Walhi menyatakan baku mutu udara Jakarta pernah mencapai 200, alias sangat tidak sehat. Polusi ini sebagian besar berasal dari kendaraan bermotor. Pemprov DKI juga mengakui 70 persen polusi udara kategori PM10 terbesar bersumber dari mobil.

Kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 yang lalu juga telah menelan kerugian yang mencapai triliunan rupiah. Walhi provinsi Jambi memperkirakan kebakaran hutan dan lahan di Jambi menimbulkan kerugian besar. Api yang melahap lahan seluas 33 ribu hektar, nilai kerugiannya diperkirakan mencapai Rp7 triliun. Untuk melakukan rehabilitasi membutuhkan dana Rp44 triliun.

Di hari terakhir, kami membahas upaya-upaya solutif atas problem lingkungan yang terjadi. Tidak ada solusi tunggal untuk setiap negara. Perbedaan kebijakan dan prioritas pembangunan telah menghasilkan banyak alternatif pemikiran dan pendapat.  Dan itulah sisi menarik dari liberalisme. Tidak ada sentralisme dan tidak ada klaim atas kebenaran solusi tunggal. Hal itu juga berlaku saat kita membahas tentang strategi pengembangan energi di setiap negara, tidak terkecuali Indonesia.