Indonesia Membutuhkan Kebijakan yang Berkelanjutan
Sebagaimana kita ketahui, karena pertumbuhan populasi dan meningkatnya kekayaan, permintaan akan energi, khususnya listrik meningkat. Terutama bagi jutaan orang yang tidak memiliki akses terhadap energi vital tersebut. Sampai saat ini, sumber yang paling umum digunakan untuk produksi listrik adalah batubara (41 persen dari semua listrik dihasilkan dari batubara, menurut World Coal Association).
Karena tingginya tingkat polusi (pencemaran air dan udara selama penambangan dan pencemaran udara selama pembakaran) dan keadaan yang sering menyedihkan bagi para penambang, dapat disimpulkan bahwa ini bukan sumber listrik yang berkelanjutan.
Ketika melihat sumber daya listrik yang berkelanjutan, kita biasanya mengidentifikasi empat hal, yaitu surya, angin, hidro, dan biomassa. Masing-masing bisa diperbaharui. Tapi itu tidak berarti membuat mereka berkelanjutan. Keberlanjutan ditentukan oleh tiga parameter yang berbeda, yaitu kelestarian lingkungan, keberlanjutan sosial, dan keberlanjutan ekonomi.
Kelestarian lingkungan berarti hal itu tidak merugikan lingkungan. Itu berarti kita membutuhkan keseimbangan energi positif untuk memulai. Keberlanjutan (sustainability) sosial sangat beragam dan kompleks. Ini mencakup keadaan sehat bagi pekerja dan upah yang layak.
Di banyak negara, bahan bakar fosil termasuk produk yang paling banyak disubsidi. Menurut IEA World Energy Outlook, listrik fosil masih disubsidi seharga lebih dari $100 miliar di seluruh dunia. Pertanyaannya, bagaimana teknologi energi terbarukan bersaing, ketika subsidi untuk sumber terbarukan hanya 1/6 dari itu?
Di akhir diskusi, kami menggaris bawahi beberapa hal. Antara lain keberlanjutan adalah kata yang sangat kompleks dan memerlukan banyak aspek untuk bisa diimplementasikan. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita menangani semua aspek ini? Bisakah kita menyeimbangkan semua pro dan kontra? Dan bagaimana kita melakukannya?
Indonesia memerlukan paradigma pembangunan berkelanjutan yang bisa diukur dan dievaluasi. Laporan EPI yang menempatkan Indonesia sebagai negara di ranking ke 107 telah menginsafkan kita untuk terus mendorong kebijakan-kebijakan yang berkelanjutan. (Tulisan ini dikirim oleh Billy Ariez)